Bahkan, penggunaan gawai yang terus-menerus tanpa mengenal waktu berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak serta membuat anak kecanduan atau adiksi gawai. Selain hal itu juga berdampak kepada berlangsungnya komunikasi secara langsung menjadi terganggu. Gawai dalam hal ini adalah smartphone yang memiliki sisi negatif baik dari segi berkomunikasi, kesehatan, budaya, sosial, dan sebagainya. Maka dari itu, perlu adanya batasan-batasan penggunaan gawai.
Fenomena kecanduan gawai semakin terlihat dalam lima tahun terakhir ini. Meskipun belum ada angka pasti berapa persentase dan jumlah manusia yang mengalami gejala kecanduan gawai akan tetapi dari sejumlah kasus yang terungkap di public, hasil kajian, survei, dan penelitian menunjukkan bahwa fenomena kecanduan gawai saat ini berada pada situasi yang sangat mengkhawatirkan. Contoh nyata fenomena kecanduan gawai yang paling sering ditemui yaitu yang saat ini sedang terjadi di lingkungan kontrakan saya.
BACA JUGA: Pelecehan Seksual di Lingkungan Kerja, Salah Siapa?
Bahkan ketika bangun tidur pun yang pertama kali dicari adalah gawai. Ketika bangun tidur mereka hanya sekedar mengecek gawai mereka masih nyala atau tidak bahkan hanya mengecek ada pesan masuk atau tidak. Meskipun gawai mereka sedang mengisi daya mereka juga tetap memainkannya. Padahal bahaya sekali akibat apabila kita memainkan gawai saat sedang mengisi daya.
Selain itu ketika sedang berkumpul dengan teman teman untuk sekedar melepas rindu dengan teman lama apabila mereka sudah fokus dengan gawai yang ada di tangan nya dan tiba tiba ada sesorang yang mengajak bicara, mereka akan tetap fokus deng gawai nya. Menurut mereka, mereka tidak bisa memcah fokus mereka dan kemudian menyelesaikan urusan dengan gawai nya lalu bisa berbicara dengan teman nya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi