Minggu, 19 April 2026, pukul : 02:00 WIB
Surabaya
--°C

UGM Tempat Main Anies Kecil dan Spirit Kepeloporan

JAKARTA—KEMPALAN: Sebuah buku mengisahkan tentang pengalaman 72 alumni Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satunya adalah Gubernur DKI Jakarta Jakarta, Anies Rasyid Baswedan. Bagi Anies UGM bukan sekadar kampus tempat menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Ekonomi dan menyemai semangat memperjuangkan rakyat kebanyakan.

Lebih jauh lagi, demikian tulis Mohammad Hasyim dalam buku yang disunting Bambang Sadono berjudul Seri Sukses Meniti Karier (2) Mengakar Kuat Menjulang Tinggi: Guyub, Rukun, Migunani (Penerbit Citra, 2022), UGM sudah dianggap oleh Anies sebagai kampung halamannya.

Ini menunjukkan betapa intimnya hubungan Anies dengan kampus UGM. Kampus yang hanya sekitar setengah kilometer dari tempat tinggalnya di Karangwuni. Semasa SD sekolahnya pun di SD Negeri Percobaan 2 di Sekip, yang merupakan perumahan dosen UGM.

Dalam buku itu Anies menjelaskan, masa kecilnya adalah masa-masa bermain di kampus. Menurut Anies, bagi anak-anak kecil di era itu, menjadikan gedung baru UGM tak ubahnya sebagai arena bermain yang tak habis untuk dijelajahi.

Misalnya, setelah menonton film “November 1828”, sebuah film yang mengisahkan satu episode pemburuan pemimpin Laskar Pangeran Diponegoro, Sentot Prawiradirja, oleh pasukan Belanda.

Film itu menyuntikkan semangat perjuangan Pangeran Diponegoro ke dalam dirinya, sehingga dia mengajak teman-temannya menjadikan hutan buatan di utaranya Gedung Pusat atau hutan di sisi barat Fakultas Biologi itu sebagai hutan tempat main perang-perangan gerilya.

Kampus UGM sangat terbuka dan bisa diakses semua orang. Kampus sebesar itu adalah pemberian dari kemurahan hati seorang visioner, negararawan dan pengayom, Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pada masa kuliah Anies mendapat gemblengan pengalaman yang membekas hingga kini. Pengalaman tentang bagaimana memperjuangkan kepentingan rakyat kebanyakan, meskipun berhadapan langsung dengan rezim yang represif.

“Terus dan tetaplah menjadi kampus penumbuh kepedulian pada sesama, pada kenyataan di masyarakat,” kata Anies dalam buku itu.

Mengawal Isu Keadilan

Di buku itu juga dikisahkan bagaimana Anies Baswedan semasa di kampus UGM berkecimpung dalam organisasi. Dan bagaimana ia memepelopori gerakan mahasiswa lekat dengan isu-isu keadilan sosial. Selain itu juga membuat terobosan baru tentang model gerakan mahasiswa dalam bentuk riset.

“Anies masuk ke Fakultas Ekonomi UGM tahun 1989. Dia dikenal aktif berorganisasi baik di dalam kampus maupun di luar kampus,” tulis Mohammad Hasyim.

Ia terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa di fakultas dan ikut membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa setelah dibekukan lewat kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan pembentukan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK).

Kemudian pada tahun 1992, Anies terpilih menjadi Ketua Senat Universitas. Di bawah kepemimpinannya, mahasiswa UGM menjadi pelopor gerakan mahasiswa yang memperjuangkan isu-isu keadilan sosial.

Misalnya, mengkoordinasi demonstrasi mahasiswa dan rakyat agar negara menghapus kebijakan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) pada November 1993.

Selain itu, Anies juga memulai tradisi untuk membuat gerakan mahasiswa berbasis riset. Ketika menyadari kebijakan Badan Penyangga Perdagangan Cengkeh (BPPC) merugikan petani cengkeh, ia membuat riset mengenai BPPC.

Selama beberapa bulan mereka turun ke lapangan, mendatangi para petani cengkeh se-Indonesia. Setelah itu Anies mengumumkan hasil risetnya ke publik.

Mohammad Hasyim juga menyinggung sekilas peran Anies Baswedan berkenaan dengan lahirnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Secara sistem kelembagaan kemahasiswaan, ia membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif dan memposisikan Senat sebagai lembaga legislatif.

Tak ketinggalan juga dibeberkan prestasi Anies Baswedan yang memenangi lomba menulis hingga kemudian mengantarkannya mendapat beasiswa belajar ke Jepang pada tahun 1993.

“Anies mendapatkan beasiswa dari Japan Airlines Fondation untuk mengikuti kuliah musim panas di Universitas Sophia, Tokyo. dalam bidang kajian Asia. Ia mendapatkan beasiswa itu setelah memenangkan lomba menulis bertemakan lingkungan,” demikian tulis Hasyim. (kba)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.