Dua polisi yang baku tembak itu saling mengenal, karena sama-sama ditugaskan untuk melayani keluarga Ferdy. Joshua bertugas sebagai sopir yang melayani Nyonya Ferdy, dan Bharada E bertugas menjadi pengawal Irjen Ferdy. Dua-duanya ternyata sama-sama dipersenjatai dengan senjata pistol, meskipun secara aturan keduanya belum diperbolehkan memegang senjata jenis pistol.
Pembuktian forensik ala Nabi Yusuf tidak bisa dilakukan terhadap Joshua karena dia keburu tewas oleh tembakan Bharada E. Kendati demikian, kasusnya tidak berhenti sampai di episode itu, dan sangat mungkin akan berkembang menjadi kasus yang lebih luas.
BACA JUGA: Rajapaksa
Keluarga Joshua tidak menerima versi polisi bahwa Joshua masuk tanpa izin ke kamar majikan. Keluarga Joshua curiga terhadap penyebab kematian karena luka-luka yang ada di tubuh Joshua terlihat bukan sebagai luka tembakan saja. Ada luka sayat dan luka memar yang mengindikasikan penganiayaan. Ada juga dua jari yang nyaris putus yang tidak terlihat sebagai luka tembak.
Dari insiden rumah tangga menjadi isu politik. Politisi PDIP mencurigai banyak yang disembunyikan dalam kronologi kejadian ini. Banyak missing link yang membuat skenario peristiwa bolong-bolong. Peristiwa ini baru dirilis ke publik tiga hari setelah kejadian. Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya kemungkinan penghilangan barang-barang bukti.
Kronologi peristiwa yang seharusnya bisa ditelusuri melalui kamera CCTV tidak bisa didapatkan, karena peralatan pemantau itu dikabarkan rusak. Ada informasi bahwa alat itu diganti setelah terjadi peristiwa tembak-menembak itu. Tanpa ada rekaman CCTV kronologi kejadian sulit untuk dirangkai.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi