Pryadi Satriana
Jurnalis beneran vs jurnalis comberan. Jurnalis itu profesi terhormat. Mulia. Mengapa? Dibaca banyak orang. Membentuk opini publik. “Suara” jurnalis melampaui gedung DPR/MPR, pesantren, sekolah/universitas, dan tempat2 ibadah. Diakses & ‘didengar banyak orang – ratusan ribu atau bahkan jutaan – secara instant & ‘real-time. Sangat strategis! Saya paham Disway itu blog-nya Dahlan Iskan. Iya … Dahlan Iskan yg jurnalis itu. Bukan yg lain, misalkan ada. Sy sering kritik Pak DI, sering nylekit, ‘pedes, ‘ndhak tahu sopan santun, ‘kasar, dsb. Bagi saya sederhana kok: kalau ndhak ada yg bisa dikritik, ya saya ndhak akan kritik. Sy rasa Abah paham, kritikan – apa pun bentuk & caranya – tetap diperlukan, utk progress yg lebih baik. Kritik saya hari ini sangat keras, krn Abah dhak peka isu sosial di sekitar kita atau maunya main aman aja. Saya jadi perlu mengingatkan, jurnalis beneran itu punya visi & misi, punya integritas, siap bertentangan dg penguasa demi prinsip2 kebenaran & kemanusiaan. Jurnalis yg ndhak peka isu sosial terkini & mengorbankan integritas demi popularitas sy sebut jurnalis comberan.’ Hari ini Abah saya sebut jurnalis comberan – sdh tahu Itu2 lagi tapi terus aja ditulis krn Apa boleh buat – supaya besok & seterusnya Abah jadi jurnalis beneran, yg tidak lagi “setengah-setengah”. Semoga. Salam. Salaam. Shalom. Rahayu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi