Hegemoni adalah sebuah konsensus yang membawa ketertundukan melalui penerimaan ideologi kelas yang menghegemoni dari kelas yang terhegemoni. Hegemoni bukan hubungan dominasi yang menggunakan kekuasaan, tetapi hubungan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan ideologi.
Terdapat dua model penguasaan, satu melalui dominasi atau penindasan dan satunya melalui kesadaran moral. Hegemoni berlangsung seolah tanpa pemaksaan. Negara-negara dengan sukarela menjadi bagian dari organisasi internasional seperti IMF (dana moneter internasional), WTO (organisasi perdagangan internasional), atau WHO (organisasi kesehatan dunia), dan dengan suka rela mengikuti aturan-aturannya.
BACA JUGA: Caltung dan Astung
Indonesia dengan suka cita menjadi bagian dari negara-negara G-20, dan sekarang dengan bangga menduduki posisi kepresidenan. Semua aturan main sudah disepakati bersama oleh 20 anggota tanpa ada paksaan, semua dilakukan dengan suka rela. Prinsip-prinsip perdagangan bebas sebagai bagian dari ‘’The Washington Consensus’’ dijalankan dengan penuh ketaatan oleh semua anggota.
Ada prinsip kesetaraan di antara seluruh anggota. Tetapi, tentu ada keseteraan yang lebih tinggi bagi negara-negara besar, dan kesetaraan yang lebih rendah bagi negara-negara ‘’junior partner’’ seperti Indonesia. Sebagaimana prinsip dalam ‘’The Animal Farm’’ Orwell, ‘’All animals are created equal, but some are more equal than others’’; semua hewan diciptakan setara, tapi beberapa hewan punya kesetaraan lebih tinggi dibanding lainnya.
Itulah paradoks kesetaraan. Indonesia tahu dan sadar diri bahwa sebagai junior partner tidak mungkin menuntut kesetaraan yang lebih tinggi yang dinikmati oleh negara-negara senior partner seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan negara-negara Uni Eropa. Rasa tahu diri itu kita terima sebagai bagian dari hegemoni.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi