Dengan penuh rasa tahu diri Indonesia melakukan konformitas, penyesuaian diri, dengan aturan-aturan yang sudah disepakati organisasi. Negara-negara anggota harus menjadi negara yang terbuka terhadap perdagangan internasional, ramah terhadap investasi asing, dan terbuka terhadap aliran modal.
Untuk menjamin konformitas itulah Indonesia menciptakan Onibus Law demi menjamin berlangsungnya aturan main yang sudah disepakati bersama. Globalisasi menjadi permainan bersama yang dirayakan bersama dengan penuh kegembiraan dan suka cita.
BACA JUGA: From Russia with Love
Itulah yang bisa menjelaskan mengapa Indonesia–yang menjadi salah satu produsen terbesar kelapa sawit dunia–tidak bisa mengontrol harga minyak goreng di dalam negeri. Kita yang punya kelapa sawit, tapi kita tidak bisa mengatur harganya. Semua didikte oleh mekanisme pasar internasional berdasarkan prinsip ekuilibrium pasar dalam mekanisme ‘’the invisible hand’’.
Kedaulatan Indonesia sekarang menghadapi ujian di banyak front. Salah satunya di front olahraga. Indonesia akan menjadi tuan rumah turnamen sepak bola ‘’Piala Dunia U-20’’ pada 2023 mendatang. Indonesia diuji dengan lolosnya Israel dalam turnamen itu. Dan, jauh-jauh hari Indonesia sudah menyatakan akan menerima kedatangan tim sepak bola Israel.
Bung Karno akan murka kalau bisa bangkit dari kuburan. Pada pesta olahraga Asian Games 1962 di Jakarta Bung Karno dengan tegas menolak keikutsertaan atlet Israel. Sikap politik Israel yang menjajah Palestina membuat Bung Karno bersikap tegas menolak atlet Israel. Bung Karno juga melarang tim sepak bola Indonesia bertanding melawan Israel dalam kualifikasi Piala Dunia 1958.
Sikap tegas Bung Karno itu membuat kesempatan Indonesia untuk tampil di Piala Dunia terlepas. Bung Karno tidak peduli. Baginya harga diri sebagai bangsa yang merdeka dan konsistensi menentang penjajahan jauh lebih bermartabat daripada tampil di Piala Dunia.
Enam puluh tahun sejak peristiwa itu terjadi, sekarang kita menghadapi problem yang sama, dan kita bersikap lembek terhadap Israel. Jangan-jangan, Indonesia terkena kutukan Bung Karno menjadi bangsa kuli di tengah bangsa-bangsa dunia. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi