Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 22:24 WIB
Surabaya
--°C

Jumat Siang Bicara Nikotin, Forsida dan Komunitas Kretek Bedah Buku Nicotine War

SURABAYA-KEMPALAN: Forsida Unair bekerja sama dengan Komunitas Kretek mengadakan bedah buku Nicotine War karya Wanda Hamilton yang diterbitkan oleh Penerbit Kolofon yang dipandu oleh jurnalis sohor, Eddward S. Kennedy.

“Nicotine War ini sebenarnya perang yang bukan perang kita,” ujar Abhisam Demosa, Koordinator Nasional Komunitas Kretek pada Jumat (17/6). Dijelaskan juga peperangan itu terjadi pada tahun 1960-an di Amerika Serikat antara industri tembakau dan farmasi yang memperebutkan nikotin karena komoditas itu sangat menguntungkan, termasuk dalam hal medis, seperti pada Perang Dunia 2, suplai rokok sangat besar karena meningkatkan ambang batas rasa sakit.

Karena tidak bisa diekstraksi, maka ada namanya Sarana Penghantar Nikotin yang didominasi oleh industri rokok, namun perusahaan farmasi sudah menciptakan sendiri komoditas nikotinnya. Industri farmasi mendapatkan angin segar ketika Surgeon General tahun 1988 mengatakan bahwa merokok adalah kecanduan.

Model pemasaran dahsyat dalam bentuk kampanye anti-rokok dan para perokok dianggap kecanduan sehingga harus direhabilitasi. Hal ini menguntungkan industri farmasi yang 4 di antaranya mendapatkan laba lebih besar dari pemasukan India. Dalam mendapatkan profit ini mereka melakukan kolusi dengan berbagai aktor lainnya seperti dengan Pemerintah Federal AS, salah satunya diwajibkan bagi para dokter untuk menanyakan kepada pasien apakah mereka merokok atau tidak dan selanjutkan dipreskripsikan untuk menanggulangi kebiasaan merokoknya.

Permasalahan nikotin ini juga melibatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terutama dalam pengendalian tembakau yang menginduk pada FCTC. “Hanya di Indonesia, pada tahun 2010, permasalahan ini nampaknya taken for granted,” tutur Demosa seraya menjelaskan bahwa urusan nikotin ini justru memunculkan perdebatan keras di AS.

Di Indonesia, ada peperangan antara rokok putih dan rokok kretek. Kretek disebut sebagai rokok khas Indonesia yang tidak ada hubungannya antara filter dan non-filter, tapi antara yang pakai campuran cengkeh atau tidak. Abhisam juga bercerita tentang Haji Agus Salim yang mendekati Pangeran Philip dari Inggris dan menyalakan rokok di depannya.

Narasumber selanjutnya adalah Irfan Afifi, Budayawan yang juga menjadi pengelola Langgar.co. Ia menjelaskan tentang kaitan tembakau dengan kebudayaan Jawa, salah satunya Tembakau Srintil. Selain itu ada juga Suko Widodo dari Universitas Airlangga yang mengulik tentang kebijakan kawasan tanpa rokok di Surabaya. Semuanya materi disampaikan mulai pukul 13.00 sampai 16.00 WIB. (reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.