JAKARTA–KEMPALAN: Sekelompok orang yang menamakan diri Majelis Sang Presiden mendeklarasikan dukungan kepada Anies Baswedan sebagai calon presiden di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu, 8 Juni 2022.
Majelis Sang Presiden ini mengaku para aktivis eks anggota Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), hingga narapidana kasus terorisme alias napiter.
Ketua Umum Ormas Pengacara dan Jawara Bela Umat (Pejabat) Ustadz Eka Jaya yang hadir dalam acara tersebut dan sempat memprotes dengan keberadaan bendera Tauhid di panggung acara, mengaku tidak mengenal orang-orang yang tergabung dalam Majelis Sang Presiden tersebut.
Kalau disebutkan dari FPI atau HTI, dia mengaku banyak kenal dengan tokoh-tokoh dua ormas yang kini dilarang oleh Pemerintah tersebut. Namun, orang-orang yang hadir tersebut dia tidak mengenalinya.
“Kita juga tidak kenal habib-habib ini, aktivis mana. Dan HTI mana? Kalau HTI misalnya Ismail Yusanto, kan kita kenal. Kalau aktivis HTI yang dulu banyak kita kenal. Tapi ini tidak yang kita kenal,” ujarnya Rabu, 8 Juni 2022.
Hanya seorang dari Majelis Sang Presiden tersebut yang ia kenal. Orang tersebut bernama Amsori, yang tampak mengenakan gamis putih dan kupluk hitam.
Amsori yang ia kenal sejak tahun 2014 selama ini dia ketahui adalah aktivis LBH dari sebuah ormas Islam besar dan ormas berbasis etnis di Jakarta.
“Amsori ini yang nyamperin saya, yang minta copot-copotin bendera,” beber Ustadz Eka, yang juga Pembina Area For RI 1 atau Aliansi Relawan Anies For RI 1 ini.
Dia sendiri menduga Amsori inilah yang dimaksud dengan Abu Abdurrahman yang merupakan Ketua Panitia Deklarasi.
Muasalnya, ketika bendera tauhid tersebut belum dicopot, Ustadz Eka berembuk dengan beberapa orang kenalannya yang juga hadir di acara tersebut. Mereka membicarakan tentang kecurigaan adanya bendera tauhid di panggung acara.
Ustadz Eka bertanya kepada seseorang siapa yang mengundang ke acara tersebut. Disebutkan, sang pengundang adalah Abu Abdurrahman.
Mereka lalu meminta ada panitia untuk menghubungi Abu Abdurrahman. Karena mereka ingin agar bendera tersebut dicopot.
“Orang yang sama kayaknya. Karena waktu saya minta, coba telepon Abu Abdurrahman ini. Yang keluar di nomor panitia itu, Amsori. Kok nama Amsori yang keluar. Saya lihat di teleponnya. Amsori ini saya kenal. Makanya saya kaget,” bebernya.
Sementara saat ditanya lebih jauh saya yang mengundang dirinya, Ustadz Eka enggan membeberkan. Karena dia merasa tidak enakan untuk menyebut nama teman yang mengundangnya tersebut. “Kasihan. Sudah ada yang ngundanglah gitu,” elaknya. (kba)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi