KEMPALAN: ALKISAH disebuah negri yang sangat kaya akan kekayaan alamnya hiduplah dua sahabat yang sangat berbeda tabiatnya. Jono sosok yang sederhana dan menikmati hidup apa adanya sedangkan Joni sosok yang sangat ramah, baik, namun ia sangat rakus dan berambisi dapat memiliki segalanya.
Mereka berteman sejak sangat kecil sebab rumah yang saling berdekatan, semasa sekolah dasar jono sangat sering bermain dengan joni mereka selalu besama ketika sekolah maupun di luar sekolah, mereka seperti banyaknya anak kecil di luar sana bersenang senang kesana kemari tanpa ada beban yang mereka pikirkan.
Namun ketika beranjak dewasa mereka sangat jarang menghabiskan waktu bersama, joni yang terlalu sibuk dengan ambisinya itu telah melupakan sahabat kecilnya tersebut, sedangkan joni terus mendalami apa yang ia pelajari tentang alam, dia mulai bertani dan berkebun.
Dia sangat senang dengan kegiatan alam yang lambat laun juga memberikan hidup baginya, ia menjalani kehidupan sosial dengan sangat baik mulai mengajak masyarakat untuk terus menanam dan mendapatkan hasil dari alam.
Jono sangat bersyukur karena Jono telah diberikan kesempatan oleh tuhan untuk merawat alam. Disisi lain Joni yang terus berambisi untuk mendapatkan segalanya kini ia pergi ke Kota untuk meneruskan studinya di kota tersebut ia belajjar sangat keras sehingga ia mendapatkan hasil yang ia inginkan, dan dia mulai bekerja di salah satu perusahaan swasta. Tidak perlu waktu lama Joni langsung mendapatkan posisi yang ia idamkan semasa di Desa karena kegigihannya itu ia mendapatkan yang ia mau.
BACA JUGA: Apa Guna Manusia?
Tak butuh waktu lama atas kegigihan dan kerja keras serta kecerdasan Joni, ia mendapatkan mandat dari rakyat untuk menempati kursi kekuasaan, Jono yang merupakan sahabatnya dari kecil sangat bangga pada Joni. Semenjak menduduki kuri kekuasaan Jono dikelilingi orang-orang munafik yang mendukung segala rencana memperkaya dirinya dan teman-teman setannya disitu. Sampai tiba pada saat Joni ditawarkan project yang menggiurkannya, uuuuuhh nikmat katanya.
Tak disangka project yang ditawarkan oleh koleganya itu mengorbankan lahan rakyat dan sahabatnya di desa, Joni berfikir keras namun apa daya ia dikuasai nafsu yang ada didalam perutnya. Dia tak bisa menolak ia tergoda.
Keesokan harinya ia memberikan pengumuman pada media dan warga sekitar dengan dalih memajukan perekonomian rakyat dan mensejahterakan rakyat ia mulai menawarkan program pembangunan di desanya tempat ia bertumbuh dan berjuang. Tidak ragu ia mulai membual dan menyuguhkan janji-janji manis pada rakyatnya akan diberi pekerjaan yang enak dan uang yang banyak.
Beberapa bulan kemudian Joni berhasil membeli tahan-tahan di desanya itu, ternyata sama saja Joni dan rakyatnya sama saja mereka tergila-gila dengan uang yang mungkin tak seberapa itu, mereka rela memberikan tanah yang telah dirawatnya bertahun-tahun kepada mahluk asing yang rakus menjajah dan merusak bumi.
Goblok sekali memang, nafsu telah menguasai. Namun hanya ada satu tanah yang ia tak bisa beli. Tanah itu adalah tanah seorang sahabatnya. Ditawari bagaimana pun sahabatnya itu enggan memberikan tanahnya itu untuk project murahan dan merusak masa depan dunianya itu.
BACA JUGA: Kita Dikutuk Bebas
Dengan susah payah Joni membujuk Jono dan mengimingi ia oleh uang seperti kepada yang lain namun sayang harta tak dapat menggoda Jono, lalu para manusia penyembah uang itu tetap menjalankan project -nya tanpa mempedulikan tanah milik Jono.
Kata Jono “Tuhan kau telah diduakan dengan benda mati yang bisa di bakar kapan saja, oh tuhan apa kau tidak marah” begitulah seruan hatinya lalu ia melanjutkan “lucu sekali manusia-manusia itu telah kau beri segalanya tapi mereka malah memilih benda mati yang taka da harganya hahahah” ia tertawa menggelengkan kepalanya sepanjang jalan layaknya orang gila.
Jono dianggap orang gila oleh sekitarnya, orang tidak waras katanya padahal merekalah yang gak waras. Lalu Jono berteriak “Kalian yang gila, tunggu saja sampai kerusakan dan kemiskinan yang diciptakan oleh kalian itu datang, dasar SETAN!!!!” ia lanjut berjalan menyisiri persawahannya untuk menikmati hidupnya yang sederhana. “Dasar penyembah uang, perusak bumi, pembawa malapetaka.” Lanjut mengumpat Jono.
BACA JUGA: Jangan Merasa Paling Suci, Kita juga Melakukan Korupsi
Negeri yang tadinya kaya akan sumber daya alamnya, indah dengan tumbuhan rindangnya, sejuk dengan pepohonnya. Negeri yang subur itu sekarang hanyalan julukan, negri yang kaya akan sumber daya alam itu kini hanya angan-angan saja, kemiskinan dimana-mana, darah pejuang khianati oleh anak cucunya sendrir, kini setan sedang berpoya-poya menikmati hartanya, kini mereka memiliki segalanya dari negri ini, kini mereka tertawa bahagia, akan seperti apa kelanjutanya.
Begitulah lamunan Jono yang sedang menikmati alam sembari memikirkan bagaimana negri ini kedepannya jika para penerusnya terus menghamba pada uang dan terus menindas rakyat yang ada dibawahnya. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi