Kamis, 25 Juni 2026, pukul : 04:20 WIB
Surabaya
--°C

Kuku Mulut

Komentar Pilihan Disway

Edisi 22/5: Hadiah Lebaran

Lukman bin Saleh

Kalau Singapur menolak UAS, itu tdk mengherankan. Sudah menjadi rahasia umum. Singapur itu seperti phobia dg etnis “Melayu.” Melayu dlm artian luas, trmasuk Jawa juga. Sudah banyak testimoni perlakuan diskriminatif Singapur trhdp bangsa Melayu. Termasuk pengalaman2 komentator Disway. Tp ini yg sy heran. UAS d cap ekstrimis oleh orang2 sejenis Abu Janda dan jamaahnya. Apa alasannya? Apa karena perbedaan pandangan politik? UAS kritis trhdp pemerintah? Krn kalau dr segi sikap. Justru UAS sy liat sebagai tokoh yg sangat moderat. D terima Muhammadiyah, d sambut warga NU, d hormati rekan2 Salafi, sepertinya semua kalangan bisa menerima UAS. Lalu mengapa ada kelompok yg menuduh UAS ekstrimis? Adakah yg bisa memberikan alasan d sini? Terutama tman2 yg tdk bersimpati dg UAS? Atau memang benar hanya gara2 perbedaan pandangan politik spt yg d katakan tokoh Papua: Petrodes Mega Kaliduan…

Hardiyanto Prasetiyo

Pernah perjalanan dari Singapore menuju Malaysia menggunakan bus. Start dari the golden mile complex turun di terminal bersepadu selatan. Banyak kekaguman muncul, pertama, golden mile complex sebagai pusat agen penjualan tiket sgt bersih dari calo tiket. Kedua, terminal bersepadu selatan jg sama bebas dari calo dan tempatnya pun jg bersih. Ketiga, ini yg saya sangat kagum sekali, ketika melintasi tol Malaysia, sepeda pancal dgn tipe road bike juga melintas di tol. Istilahnya kalau di Malaysia “Lebuh Raya” sepeda motor boleh masuk, sepeda pancal pun jg boleh, mgkn karena sama2 sepedanya, disamping itu speed road bike hampir menyamai sepeda motor. Mgkn itu pertimbangannya road bike bisa masuk ke tol. Selama perjalanan di tol pemandangan kanan kiri jalan terbentang kebun sawit, seakan menandakan bahwa Malaysia Raja Sawit..hehehehe.

BACA JUGA  Topeng Narsistik Makin Lihai Seiring Usia

Muin TV

Ada satu kata di Malaysia yang membuat saya sedikit tersenyum ketika membacanya. Yaitu kata ini “am”, artinya “umum”. Di Indonesia, kata “am” sedikit “sakral”. Ia biasanya dipakai untuk menyebut ketua umum PBNU. Rois am PBNU. Di Malaysia, kata “am” biasa saja. Tak ada “sakral” sama sekali. Ia bisa digabungkan dengan kata apa saja, yang penting fungsinya untuk umum. Seperti kata “tandas am”, yang artinya “WC umum”.

Er Gham

Jalan tol terbaik? Jagorawi. Mandornya dari Korea Selatan. Jalan Banda Aceh ke Pidie mulus? Pake mandor Amerika. Jalan dari Atambua ke Kupang nyaman ? Mandornya dari Australia. Kadang kita perlu mandor dan pengawas dari luar. Mereka mungkin memang tidak suka makan aneh seperti aspal, batu, pasir. Cukup burger dan kentang goreng.

BACA JUGA  Tren Novel Online: Menantu versus Mertua

Er Gham

Jalan tol di Malaysia lebih mulus ? Di Indonesia juga. Sama. Hanya ada bedanya. Di sini ‘kurang awet’. Mengapa? Apakah ada perbedaan struktur tanah? Perbedaan curah hujan? Atau ada bahan tertentu yang dikurangi sehingga tidak sesuai spesifikasinya ? Mungkin Anda lebih tahu. Yang saya heran, kadang ada orang di sini menyukai makanan tertentu (selain soto, rawon, rendang, dan pecel lele). Mereka menyukai makanan aneh seperti: aspal, pasir, semen, batu.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.