Menu

Mode Gelap

Kempalanbis · 16 Feb 2022 06:35 WIB ·

JHT-56, Kerumunan Orang vs Kerumunan Uang 


					Foto: Tempo Perbesar

Foto: Tempo

Bambang Budiarto (penulis).

Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: Yang namanya kerumunan memang rentan menimbulkan masalah, apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Karena itulah salah satu klausul protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah adalah menghindari kerumuman, yang demikian tentu saja untuk menghindari penularan virus diantara orang-orang dalam kerumuman tersebut. Disamping kerumunan orang, kerumunan uang juga rentan menimbulkan masalah.

Adalah JHT-56, Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pembayaran Manfaat Jaminan Hari Tua (JHT).  Dalam permen tersebut di Pasal 3 tertulis manfaat JHT yang akan diberikan kepada peserta BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) saat sudah pensiun di usia 56 tahun,  “Manfaat JHT bagi Peserta yang mencapai usia pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a diberikan kepada peserta pada saat mencapai usia 56 tahun”.

Peserta BP Jamsostek yang mengundurkan diri, terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), atau yang  meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya adalah golongan yang akan mendapat manfaat JHT jenis ini. Dikecualikan adalah untuk peserta yang meninggalkan Indonesia selama-lamanya dengan status WNA, JHT-nya dapat langsung dicairkan.

Dari sisi tenaga kerja tentu saja memunculkan keresahan tersendiri. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut aturan terbaru JHT ini sangat merugikan buruh dan meminta permen ini dicabut untuk selanjutnya tetap mengikuti aturan sebelumnya, JHT dapat dicairkan sebulan setelah PHK.

Namun sepertinya pemerintah telah mengantisipasi dengan diselipkannya klausul program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dalam permen tersebut. JKP dimungkinkan akan dapat berupa  akses lowongan kerja,  pelatihan kerja, sampai fasilitas Manfaat Layanan Tambahan (MLT) berupa bunga ringan. Sepertinya program JKP ini tidak terlalu menarik untuk dijadikan peredam dan hiburan bagi kaum buruh. Kajian dari sisi tenaga kerja ini lebih pada pemikiran bagaimana buruh mampu bertahan hidup jika misalnya terkena PHK di usia 40 tahun sementara JHT baru akan dapat cair 16 tahun kemudian.

Sementara dari sisi pemberi kerja atau dari sisi perusahaan, terbitnya Permenaker No 2/2022 ini tidak terlalu menimbulkan perubahan yang cukup signifikan. Situasi yang sedikit berbeda adalah dari sisi BPJS Ketenagakerjaan sebagai pengelola tunggal JHT.

Fakta bahwa JHT akan diberikan di usia 56 tahun tentu saja melahirkan pemahaman bahwa akan ada pengendapan finansial yang berasal dari penundaan pembayaran JHT yang seharusnya diterima oleh pekerja. Hal ini tentu saja akan melahirkan kerumuman uang tersendiri di BPJS Ketenagakerjaan. Secara gampang publik tentu memahami bahwa kerumunan uang dalam jumlah besar dan jangka waktu lama pasti akan melahirkan penambahan atas nominalnya sesuai tingkat diskonto berjalan.

Mengikuti publikasi data Pengembangan Investasi BP Jamsostek, sampai akhir 2021 total dana investasi yang dikelola sebesar Rp 553,5 triliun yang mayoritas (63%) ditempatkan dalam surat utang. Kemudian  19% di deposito, 11% di saham, 6,5% di reksadana, dan 0,5% nya merupakan investasi langsung.

Dari keseluruhan jumlah tersebut, total dana investasi JHT di tahun 2020 sebesar Rp 340,75 triliun. Hasil investasinya sendiri di 2021 mencapai 6,95%, melebihi target yang ditetapkan 6,55%. Mencermati hitung-hitungan yang demikian wajar jika pada akhirnya publik pun ikut memeriahkan komentar atas keberadaan kerumunan uang yang mencapai triliunan rupiah ini.

Time value of money, di sinilah masalahnya, uang yang mempunyai nilai berbeda untuk waktu yang berbeda, yang tentu saja rentan memunculkan alternatif-alternatif penggunaannya. Pertanyaannya sekarang adalah, manakah yang lebih rentan menimbulkan masalah di masa pandemi seperti saat sekarang ini, kerumunan orang atau kerumunan uang?  Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

 

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 2,816 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Qatar 2022, Ojo Dibanding-bandingke

28 November 2022 - 07:10 WIB

Luar Biasa, Kunjungan Gubernur Khofifah ke Mesir Bawa Pulang Kontrak Ekspor Kopi dan Kertas Jatim Bernilai 11 Juta USD

24 November 2022 - 11:22 WIB

Wujudkan Dunia Kerja Jatim yang Inklusif dengan Memberi Ruang Bagi Penyandang Disabilitas, Gubernur Khofifah Terima Penghargaan dari Kemenaker RI

21 November 2022 - 18:34 WIB

Terima Sertifikat Penetapan KEK Singhasari, Plt Gubernur Emil Optimis Tumbuhnya Ekosistem Digital di Jatim

21 November 2022 - 18:29 WIB

UK Petra Ulas Peran Akuntan dalam Wujudkan Sustainable Development Goals 2030

19 November 2022 - 18:16 WIB

Hari Ini Menpora Bertemu PT LIB, Bahas Kelanjutan Liga?

18 November 2022 - 13:05 WIB

Trending di Kempalanbis