Kamis, 25 Juni 2026, pukul : 04:21 WIB
Surabaya
--°C

Kuku Mulut

Saya menghubungi dokter hewan yang Anda sudah tahu: drh Indro Cahyono. Ia punya cerita menarik. Khas Indro. Yang pernah jadi juara lawak sewaktu di SMAN 3 Semarang.

Ada unsur pemberontakan di dalamnya. Dan pengungkapan ketidakadilan.

Sebagai orang yang suka humor ia sangat disukai teman-temannya. Tapi sebagai tim peneliti ia kurang dianggap ”terlalu lurus” –begitu banyak peneliti yang tidak disukai karena kelurusannya. Ia bukan satu-satunya.

Maka Indro diberi proyek yang paling tidak menarik: meneliti PMK. Di tahun 2007. “Bayangkan, Indonesia sudah dinyatakan bebas PMK. Saya justru disuruh meneliti bidang itu. Apanya yang harus diteliti?” ujarnya.

Apa lagi biaya yang diberikan juga sangat minim. Sampai-sampai tidak cukup untuk ke Entekong. Indro begitu ingin ke perbatasan Kalbar-Serawak itu. Logikanya, kalau terjadi penularan, pertama-tama pasti terjadi di perbatasan. Apalagi perbatasan di Entekong itu perbatasan darat. Dan lagi Malaysia belum termasuk yang sudah bebas PMK.

BACA JUGA  Topeng Narsistik Makin Lihai Seiring Usia

Akhirnya Indro memilih ke Riau. Maunya juga ke dekat-dekat wilayah Selat Malaka. Biar pun perbatasannya berupa laut, siapa tahu ada penularan.

BACA JUGA: Reputasi Segalanya

Biaya yang diberikan juga tidak cukup. Pun ke Riau-perbatasan.

Indro memutuskan untuk di Kota Pekanbaru saja. Ia datangi tempat pemotongan sapi di situ. Logikanya: sapi dari banyak daerah toh dipotong di situ. Ambil contoh darahnya pun mudah.

Hasilnya?

“Lebih 20 persen sampel yang saya ambil memiliki antibodi,” ujar Indro mengingat-ingat peristiwa lama.

Kesimpulan Indro: itu berarti sapi tersebut pernah tertular PMK. Sembuh. Punya antibodi. Berarti PMK sudah masuk ke Indonesia. Hanya saja tidak termonitor.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.