Senin, 4 Mei 2026, pukul : 10:47 WIB
Surabaya
--°C

Ojo Kesusu

Kader PDIP pun terbelah antara yang mendukung Ganjar dan Puan. Bambang Pacul meledek kader PDIP yang mendukung Ganjar sebagai celeng alias babi hutan. Alih-alih mundur para pendukung Ganjar malah bangga disebut sebagai celeng. Muncullah persaingan terbuka antara banteng vs celeng.

Puan mencoba strategi baru untuk mendongkrak elektabilitas. Ia menyerang calon-calon presiden yang dianggapnya hanya bisa menjual tampang di media sosial, tapi kenyataannya tidak bisa bekerja. Beberapa capres terkena sindiran ini, tetapi yang paling keras menjadi sasaran tampol tentulah Ganjar Pranowo.

Ganjar tidak pernah berkomentar balik, apalagi melawan. Meski begitu Ganjar tidak berhenti bergerak. Ia tetap berjalan dan tetap aktif melakukan kampanye media sosial. Ganjar menjalankan politik kepiting, berjalan ‘’nggeremet’’, pelan-pelan, berhenti kalau ada batu, lalu berjalan lagi, dan kalau kondisi aman sesekali dia menggigit dengan capit.

BACA JUGA: Tesla dan Esemka

Orang Jawa punya filosofi alon-alon waton kelakon, pelan-pelan asal berhasil. Jokowi dan Ganjar tahu pasti mengenai hal itu. Karena itulah Jokowi mengingatkan ‘’ojo kesusu’’., lebih baik alon-alon waton kelakon, pelan-pelan tapi berhasil.

Tetapi Jokowi dan Ganjar tidak bisa terus-menerus alon-alon dan tidak kesusu. Waktu sudah semakin mepet. Jokowi dan Ganjar berpacu dengan waktu, race against time. Harus ada plan B dan harus disiapkan sekoci sebagai penyelamat kalau Ganjar tidak bisa mendapatkan tiket dari PDIP.

Sampai kapan Ganjar sabar dan tidak kesusu, itulah pertanyaannya. Ganjar akan manut kepada Jokowi. Ganjar adalah fotokopi Jokowi dan mencoba mengemulasi Jokowi seperti cover version. Tentu ini menyenangkan bagi Projo tapi bisa menjadi kendala bagi pemilih lain yang menganggapnya membebek dan tidak kreatif.

Anak milenial menyebut Ganjar melakukan ‘’kopasus’’, kopi paste ubah sedikit, terhadap gaya Jokowi. Kopasus adalah menjiplak yang hampir sama dengan plagiat.

Jokowi membutuhkan seorang protégé yang bisa dipercaya sebagai penerus kebijakannya yang masih banyak terbengkalai. Pilihan paling rasional adalah Ganjar. Tetapi, tentu Jokowi harus realistis dan tidak menutup mata terhadap kemungkinan mendukung calon lain yang lebih potensial.

Ojo kesusu bermakna ganda. Bisa bermakna tunggu sampai saatnya tepat, tapi juga bisa bermakna tunggu saya akan bandingkan dengan calon lain. Ganjar belum aman dan tidak boleh merasa ge’er, gede rumongso.

Di media sosial pun muncul meme menggambarkan seorang pedagang makanan membawa rombong bertuliskan ‘’Don’t to Milk’’, ojo kesusu. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.