Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 16 Mei 2022 16:11 WIB ·

Jokowi, Biden, dan Elon


					Foto: tangkapan layar Perbesar

Foto: tangkapan layar

KEMPALAN: LAWATAN Presiden Joko Widodo ke Amerika menjadi berita heboh di tanah air. Tapi, yang bikin publik heboh bukan berita mengenai hasil-hasil pertemuan, tapi malah hal-hal remeh-temeh seperti urusan protokol ketika Jokowi tidak dijemput oleh tuan rumah Presiden Joe Biden di bandara. Jokowi salah sebut jabatan menteri, Jokowi ‘’dicuekin’’ oleh Biden, dan pertemuan dengan Elon Musk yang disebut tidak jelas hasilnya.

Kunjungan ke Amerika Serikat ini sangat strategis artinya bagi Indonesia. Selain mewakili kepentingan Indonesia Jokowi sekaligus mengemban dua peran penting, yaitu menjadi koordinator negara-negara ASEAN dalam dialog dengan Amerika, dan pemegang presidensi negara-negara G-20.

Dengan dua peran yang mentereng dan bergengsi itu seyogyanya pamor Indonesia bisa berkibar di Amerika, dan Jokowi mendapatkan penghormatan diplomatik yang lebih layak. Tapi, ternyata Presiden Biden punya pertimbangan lain. Ia memilih tidak menjemput Jokowi ke bandara. Alih-alih Biden menjemput Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Berbagai spekulasi diplomatikpun bermunculan. Sebagai koordinator ASEAN dan pemegang presidensi G-20 harusnya Biden lebih menghormati Jokowi dengan menjemputnya di bandara. Tapi, kenyataannya Biden lebih memilih menjemput PM Singapura. Spekulasi dipmolatik yang berkembang menyatakan bahwa Biden secara simbolik menunjukkan bahwa ia kurang welcome terhadap Jokowi.

BACA JUGA: Shireen

Sebagai partner  strategis di kawasan Asia Tenggara Amerika merasa lebih dekat dengan Singapura ketimbang negara-negara lain termasuk Indonesia. Skala hubungan dagang Amerika dengan Singapura mengalahkan Indonesia. Kedekatan politik Amerika dengan Singapura mengungguli negara-negara ASEAN lainnya.

Amerika pernah dekat dengan Filipina selama hampir 30 tahun semasa kepemimpinan diktator Ferdinand Marcos. Ada dua pangkalan militer Amerika di Filipina, yaitu Subic dan Clark yang menjadi pangkalan utama militer Amerika di kawasan Asia-Pasifik. Tetapi, setelah kejatuhan Marcos pada 1986 dan berakhirnya perang dingin pada 1990 dua pangkaan itu ditutup.

Amerika kehilangan pijakan penting di kawasan Asia sejak penutupan itu. Apalagi konflik Laut China Selatan selalu menjadi problem strategis yang menjadi ancaman kepentingan Amerika di Asia-Pasifik. Jalur Laut China Selatan ibarat tenggorokan bagi Amerika untuk mengakses wilayah Pasifik. Kalau Cina menguasai dan menutup jalur itu maka sama saja artinya dengan mencekik leher Amerika.

Posisi Indonesia dalam persoalan Laut China Selatan selama kepemimpinan Jokowi dianggap lebih condong ke China. Jokowi—yang oleh Ben Bland dianggap tidak kompeten dalam pemahaman geopolitik internasional—pernah mengatakan bahwa Laut China Selatan bukan urusan Indonesia. Kondisi ini memengaruhi sikap Amerika terhadap Indonesia.

BACA JUGA: Lockdown Sapi

Kepresidenan Indonesia dalam kelompok negara-negara G-20 tahun ini seharusnya menambah kredensial Jokowi di mata Biden. Tapi, yang terjadi tidak demikian. Amerika kecewa karena Indonesia tidak menuruti keinginan Amerika yang meminta supaya Rusia tidak diundang ke pertemuan G-20 akhir tahun ini di Bali.

G-20 atau Group of Twenty adalah kumpulan negara-negara dengan ukuran ekonomi besar yang diciptakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Kelompok ini merupakan perpanjangan keanggotaan dari kelompok Group of Seven atau G-7 yang didirikan pada 1975, beranggotakan negara-negara tajir, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Britania Raya, Prancis, Italia, dan Jepang.

Artikel ini telah dibaca 124 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Survei Terkutuk

1 Juli 2022 - 13:06 WIB

Pahlawan Irpin

1 Juli 2022 - 07:00 WIB

Caltung dan Astung

30 Juni 2022 - 18:36 WIB

Tanpa Jumbo

30 Juni 2022 - 07:00 WIB

From Russia with Love

29 Juni 2022 - 16:59 WIB

Imam Trump

29 Juni 2022 - 07:15 WIB

Trending di Kempalpagi