Saya ”ditembak” di alat itu. Langsung diajak melihat hasilnya: di layar komputer. “Bagus sekali. Gak usah khawatir,” katanya. Ia pun menyerahkan flash disk ke saya. “Ini copy hasil RMI tadi,” katanya.
Hari itu empat acara beres. Setiap selesai acara, saya lapor ke Robert Lai. Teman-teman yang saya temui itu adalah juga temannya. Lebih tepatnya: semua itu teman Robert Lai.
Robert pun tahu, ketika saya masih ada sisa waktu 2 jam. Yang kosong acara. Maka Robert menelepon penjual durian: apakah punya Musangking di luar musim durian seperti ini.
“Anda ke sana. Durian sudah siap. Saya sudah pesankan,” tulis Robert di WA-nya. Mau tidak mau, apakah pura-pura terpaksa, saya ke sana. Durian sudah dibayar. Sayang kalau tidak dimakan. Kebetulan ada dua teman asal Sichuan, Tiongkok, yang mau gabung di durian. Ia bekerja di Singapura.
Mereka bercerita, orang-orang Tiongkok kini gila durian. Itu dibenarkan oleh penjual durian.
“Durian terbaik Malaysia sekarang dikirim ke sana. Dengan harga lebih baik. Kami hanya dapat seperlimanya,” ujar penjual durian itu.
Selesai makan durian, acara makan malam sudah menanti. Teman lain yang dari Singapura akan bergabung. Demikian juga yang asal Fujian. Total 7 orang.
“Ini pasti seru,” kata saya dalam hati.
Acara makan malam itu pasti panjang. Pasti akan ada ”upacara” setelah makan. Tidak mudah berhenti. Khas mereka. Saya sudah hafal.
Saya pun bertanya pada tamu asal Sichuan itu: berapa persen orang Tiongkok yang kini suka durian. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi