Ia pun membuat teh. Di belakang meja praktiknya, memang ada teko kecil dan beberapa mangkuk kecil. Ia masukkan Chinese tea ke teko itu. Ia tuangkan air mendidih dari boiler kecil. Ia tuangkan air teh itu ke mangkuk-mangkuk kecil.
Istrinya ikut ngobrol. Tidak ikut minum.
Sambil minum teh, saya minta cerita tentang kliniknya itu. Yang selama pandemi memiliki keunggulan: tidak perlu opname. Ia lakukan penanganan baru: satu hari selesai. “Ternyata orang senang. Selama pandemi, orang takut opname di RS,” katanya.
Ngobrol selesai. Saya harus tahu diri. Jadwal Ben Chua ketat.
BACA JUGA: Sawit Siklus
Saya pun pamit. Yang penting kini saya sudah tahu ke alamat mana kalau saya harus mencarinya.
“Punya waktu?” tanyanya. Tentu saya punya waktu. Harusnya saya yang bertanya begitu padanya.
“Ada apa?” tanya saya balik.
“Kalau mau, saya lakukan MRI. Saya ingin lihat apakah Anda baik-baik saja,” katanya.
“Hahaha… Mau!” jawab saya.
Mesin MRI itu disiapkan. Masih kelihatan baru. Dipasang dua tahun lalu. “Waktu itu, jenis ini, hanya ada 4 di dunia,” katanya.
Jenis alat itu semua dokter tahu: Philips Azurion 7 C20 FlexArm. Populer dengan nama hybrid operating theatre atau angiosuite. Di Amerika disebut Office Based Labs (OBLs) atau Office-Based Cath Lab.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi