Minggu, 26 April 2026, pukul : 03:26 WIB
Surabaya
--°C

一百二十

Komentar Pilihan Disway*
Edisi 15/5: Stereo Adharta

Mirza Mirwan
Ealah…., tadi ngilang ternyata “diruwat” dulu biar bisa pada komentar. Ya udah, trima kasih. Saya dah lupa, tadi pagi mau nulis apa terkait kerusuhan Mei 1998. Tetapi, yang masih lekat di ingatan saya sampai sekarang adalah hal-hal berikut: Pertama, saat rupiah berangsur jeblok, sebelum Mei, ada “dukun moneter” bernama Steve Hanke ketemu Pak Harto. Ki Hanke ini menyarankan agar Indonesia kembali ke zaman awal Orde Baru, menetapkan kurs tetap — secara periodik dilakukan devaluasi. Tetapi, seperti kemarin ditulis Pak DI, Pak Harto akhirnya pilih menggunakan resep IMF — meski tadinya tertarik resep Ki Hanke. Kedua, foto utama di Harian Kompas saat Pak Harto menandatangani LoI pinjaman IMF. Pak Harto duduk di meja, sementara Direktur IMF saat itu, Michael Camdessus, berdiri sambil melipat tangan di dada dan memperhatikan Pak Harto. Persis seperti guru SD saya dulu kalau menghukum murid yang ketahuan menyontek untuk menulis “Saya akan lebih giat belajar” sepanjang 100 baris. Yang terakhir, seminggu setelah kerusuhan majalah TIME –saya masih berlangganan waktu itu — memuat kolom Pak GM tentang kerusuhan (riots) Mei yang menggegerkan dunia, ibaratnya seperti konflik Ukraina-Rusia dua bulan terakhir ini. Judulnya saya lupa. Yang masih saya ingat Pak GM mengibaratkan keadaan Indonesia kayak Titanic yang tenggelam. Kedua putri saya yang masih kecil — Mbake baru 7 tahun, Adik 2 tahun — takut melihat televisi sejak 12 Mei hingga beberapa hari sesudahnya.

Tifa
Timestamp = 15: 28 WIB. Artikel “STEREO ADHARTA” telah duduk pada orbitnya. Pelajaran buat admin cs : Tolong diingat ya, dapat pekerjaan dan dipercaya orang tua itu adalah anugrah dari Tuhan. Orang tua banyak tabungannya, banyak fulusnya, banyak kenal dan dikenal anak muda di mana-mana. Faham maknanya kan, Min?

LiangYangAn 梁楊安
“Saya jadi ingin tahu: benarkah semua itu. Maka, kalau ada pembaca yang mengalami semua itu, saya ingin sekali mendapat ceritanya secara langsung. Saya bisa dihubungi di email redaksi@disway.id” Saya kira kemungkinannya sangat kecil bagi @disway.id untuk mendapatkan cerita secara langsung dari orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut, karena : 1. Rentang waktu 24 tahun cukup bagi mereka yang mengalami peristiwa tersebut untuk melupakannya, sepahit apapun itu but life must go on. 2. Untuk apa membuka lembaran buram masa lalu, toh tidak akan mengubah apapun. 3. Kalau memang @disway.id tertarik untuk memuat peristiwa dahulu tersebut sebagai berita (catatan harian dahlan iskan) mungkin bisa mendapatkan informasi dari TRUK (Tim Relawan Untuk Kemanusiaan). 4. Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) ini melakukan dokumentasi, investigasi, advokasi, dan pendampingan kepada korban kekerasan yang terjadi di seluruh Indonesia (bukan hanya untuk korban Mei 1998). Terimakasih, LiangYangAn 梁楊安

Komentator Spesialis
Benar mas. Tidak ada gunanya membuka catatan buram tsb. Bukankah saksi kunci, bahkan pemeran utama saat itu duduk di pemerintahan jadi pejabat penting. Misal : wiranto, prabowo, hendropriyono (saat itu menteri), ada fahri hamzah, adian napitupulu dll. dari aktivis ?

Tifa
Setelah tulisan Abah hari ini saya duplikasi secara partial dii kolom komen pada tuisan sebelumnya. Barulah admin gumregah, takut ya min? Takut dicubit online rame rame? Wkwkkwwk

Johannes Kitono
Salut dengan perjuangan Bp Adharta menyelamatkan keluarganya dan bocah 2 pada kasus Tragedi Mei 1998. Saat ini Jakarta memang lagi Chaos. Banyak etnis Tionghoa yang bingung langsung bawa mobil ke Bandara. Cari tiket mau ke LN. Mobilnya terserah pembeli yang tentukan harga. Daerah Pasar Ikan dekat Muara Baru ada Apartrnen MB yang sudah dibooking Ardhana justru terjadi pemerkosaan terhadap wanita etnis Tionghoa. Terjadi penjarahan terhadap toko toko milik etnis Tionghoa. Rumah rumah di Tanjung Duren pintunya dikasih label tulisan Arab bhw itu milik pribumi. Modusnya sama. Perusuh itu naik truk dan membakar Ban mobil di tengah jalan. Saat tiba di ujung jalan Kemanggisan Utama Raya, dekat komplek Pajak Slipi , depan rumah Ferry Sonneville, legenda Bulutangkis Indonesia. Ban mobil sdh ditaruh dan siap dibakar, tapi diusir oleh jagoan daerah Kemanggisan.” Eh pergi lu jangan ganggu kampung kami “, kata jagoan Kemanggisan tidak kalah galaknya. Truk pengangkut perusuh langsung kabur. Ironisnya, beberapa bulan kemudian sempat urunan sama teman teman membantu wanita etnis Tionghoa yang hamil.Hasil pemerkosaan perusuh yang biadad.Semoga Tragedi Mei 1998 tidak terulang dan para perusuh dapat karmanya.Semoga pendengaran Bp Ardhata pulih kembali dan bisa selalu membantu sesama, Amin.

*) Diambil dari komentar pembaca http://disway.id

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.