Secara geopolitik dukungan terhadap komunisme mengecil setelah ambruknya Uni Soviet yang disusul dengan bubarnya rezim komunis Eropa pada 1990-an. Saat ini praktis hanya beberapa negara yang secara resmi masih menganut sistem komunisme, seperti Kuba, Korea Utara, dan beberapa negara di Amerika Selatan.
China menjadi negara hybrid campuran antara komunisme dan kapitalisme, dan karenanya sering disebut sebagai komunisme yang tidak murni. Tetapi, komunisme gado-gado model China ini justru yang bisa menjadi ancaman serius, karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan bertindak pragmatis dalam menyikapi tantangan global.
Salah satu bukti kongkret adalah keberhasilan China yang lebih cepat dalam menangani pandemi Covid-19 ketimbang negara-negara kapitalis Amerika dan Eropa. Cara-cara otoriter ala komunis dalam menerapkan lockdown dan vaksinasi, lebih efektif dibanding cara persuasif yang diterapkan di negara-negara demokratis.
Komunisme ortodoks gaya lama tidak bisa bertahan dalam kondisi yang kompleks seperti sekarang. Tetapi kelompok-kelompok kiri-liberal tetap tumbuh subur di Eropa dan Amerika. Kelompok ini selalu bertentangan secara ideologis dengan kelompok konservatif kanan. Di Amerika dan Eropa kelompok kiri-liberal ini sering disebut sebagai kelompok komunis.
BACA JUGA: Tim Naas Indonesia
Kelompok LGBT bermunculan dan tumbuh subur karena mendapat perlindungan dari kalangan liberal-kiri ini. Di Amerika, perkawinan sejenis didukung sepenuhnya oleh Partai Demokrat yang liberal, tetapi ditentang keras oleh Partai Republik yang konservatif yang mendapat dukungan luas dari penganut Kristen garis kanan.
Untuk menggambarkan spektrum politik secara lebih sederhana bisa disebutkan bahwa ideologi LGBT sudah berkoalisi dengan kalangan ‘’komunis’’ liberal-kiri. Bagi Indonesia, ini berarti dua ancaman ganda berkumpul menjadi satu, yaitu ancaman komunisme dan LGBT.
Ancaman ideologi LGBT ini menjadi sangat serius karena didukung oleh perusahaan-perusahaan trans-nasional raksasa dunia. Lima perusahaan besar Amerika sudah mendukung LGBT, yaitu Facebook, Apple, Microsoft, Nike, dan Walt Disney. Satu perusahaan Eropa pendukung LGBT adalah Unilever termasuk cabangnya di Indonesia.
Kampanye LGBT sudah berlangsung masif dan sistematis. Film-film layar lebar Hollywood sangat banyak yang memasukkan paham LGBT secara terang-terangan. Tokoh Superman yang gagah pekasa pun sekarang menjadi gay. Badan olahraga internasional seperti otoritas sepakbola Eropa UEFA, juga terang-terangan mendukung LGBT.
Kampanye LGBT masif dan melibatkan uang besar. Mereka tidak ragu menggelontorkan uang besar untuk membeli media. Deddy Corbuzier harus lebih cerdas lagi dalam membuat konten. ‘’Don’t make yourself stupid’’. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi