HONGKONG-KEMPALAN: Komite Pemilihan Hongkong yang berisikan orang-orang yang loyal kepada Tiongkok telah memilih seseorang yang menjadi pemimpin Hongkong.
Ia adalah John Lee yang menang dengan 1,416 suara dari total 1,500 suara oleh Komite Pemilihan Hongkong.
Hanya 8 orang yang tidak memilih dirinya—sementaranya sisanya memilih golput.
John Lee merupakan mantan ketua keamanan di Hongkong yang sempat mengimplementasikan kebijakan keamanan nasional yang menghancurkan kehidupan demokrasi di negaranya.
Akibat kebijakan tersebut, lebih dari 150 orang ditangkap dengan adanya label teroris, agen luar negeri hingga lainnya.
Hampir semua aktivis pro-demokrasi di Hongkong telah ditangkap akibat kebijakan tersebut.
Kelompok masyarakat sipil lainnya secara paksa dibubarkan dan juga media luar seperti Apple Daily dan Stand News harus menutup dirinya.
Hal tersebut dilakukannya dengan alasan menegakkan dan mengembalikan stabilitas Hongkong pasca protes besar-besaran tahun 2019.
Menanggapi pemilihan tersebut, pihak Tiongkok mengatakan bahwa masyarakat Hongkong memiliki tingkat pengenalan tinggi dan tingkat persetujuan tinggi terhadap John Lee.
Voting yang dilakukan pada Minggu (8/5) merupakan hasil dari perubahan besar dari kebijakan pemilu pada tahun lalu untuk memastikan hanya “Loyalis” Beijing saja yang dapat melakukan voting.
Pemilihan umum dibuat selayaknya negara-negara demokrasi lainnya—namun di sisi lain mengeliminasi suara oposisi.
Pada pagi hari waktu pemilihan pun sempat terjadi protes oleh tiga anggota Liga Demokrasi Sosial Hongkong yang menampilkan banner besar untuk “One Man One Vote” kepada semua masyarakat Hongkong.
(Muhamad Nurilham, Aljazeera)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi