Menu

Mode Gelap

kempalanews · 29 Apr 2022 16:00 WIB ·

Berbagi Pahala dan Dosa di Bulan Ramadan


					ILUSTRASI: Ngabuburit ramadan Foto: Magazinejoblike.com Perbesar

ILUSTRASI: Ngabuburit ramadan Foto: Magazinejoblike.com

MALANG-KEMPALA: Saat ini umat muslim sedang menikmati datangnya bulan suci ramadan. Bulan suci ramadan menjadi bulan paling dinanti dan dirindukan oleh umat muslim di seluruh dunia, begitupun Indonesia. Keberkahan yang hanya ada dalam bulan suci tersebut menjadikan umat Islam merasakan nikmatnya menjalani ibadah di bulan suci ramadan.

Dalam hadits disebutkan bahwa jika telah datang bulan Ramadan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan syaitan dibelenggu. Begitu mulianya bulan Ramadan. Secara khusus Rasulullah SAW mengingatkan “andaikan umat manusia mengetahui keutamaan bulan Ramadan, maka niscaya umatku mengharap satu tahun menjadi ramadan.”

Lalu apa benar pintu neraka ditutup, syaitan dibelenggu? Ini pertanyaan yang sering timbul dalam benak saya ketika menghadapi bulan-bulan Ramadan beberapa tahun ini. Kenapa syaitan dibelenggu, apa salahnya? Apa ini akal akalan manusia saja agar manusia bisa dianggap mahluk yang paling sempurna di muka bumi ini?

Sebelum itu mari kita lihat bagaimana potret bulan suci ramadan di negara kita tercinta.

Beberapa kebiasaan atau tradisi yang amat sering dilakukan oleh masyarakat saat bulan suci Ramadan sangatlah beragam, misalnya tradisi shalat tarawih berjamaah, buka bersama, ngabuburit, bagi-bagi ta’jil, dan mudik. Berbagai tradisi atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat Indonesia saat bulan ramadan memang bermanfaat sehingga membuat nyaman dalam menjalankan ibadah puasa.

Namun seketika saya dibawa untuk melihat realitas lain yang kadang dikesampingkan oleh beberapa aktor dari tradisi saat ramadan ini. Apa itu? Di sini saya berfokus pada tradisi ngabuburit dan bagi-bagi ta’jil gratis. Kedua tradisi ini memang memiliki nilai positif yang sangat banyak.

Di samping banyak dampak positif yang dihasilkan oleh kedua tradisi ini, kadang kita lupa bahwa kedua kebiasaan masyarakat Indonesia saat ramadan juga memiliki dampak negatif. Seperti meningkatnya daya beli masyarakat serta sampah pada lingkungan kita. Mengutip pandangan Abraham Maslow, manusia pada hakikatnya memiliki kebutuhan yang bertingkat-tingkat.

Paling mendasar adalah kebutuhan fisik. Selanjutnya kebutuhan memperoleh rasa aman, kebutuhan sosialisasi, kebutuhan pengakuan dan kebutuhan aktualisasi diri. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, manusia akan mengusakannya dengan aktifitas konsumsi. Konsumsi dalam hal pemenuhan kebutuhan fisik tentunya beriringan dengan sampah yang dihasilkan.

Sampah pangan muncul karena berbagai alasan dan sangat bergantung pada kondisi masing-masing negara. Di Negara berpenghasilan tinggi. Volume pangan yang terbuang lebih banyak. Memasuki rutinitas tahunan bulan Ramadan, intensitas daya beli masyarakat jauh lebih tinggi daripada di luar bulan Ramadan, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa daya konsumsi tinggi juga berbanding lurus dengan peningkatan jumlah sampah pangan yang ada.

Bulan Ramadan menjadi ajang bagi kita untuk bertemu ketika momen buka puasa tiba. Itu semua bertujuan untuk memperat dan memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Namun sayangnya muncul persoalan baru yang lahir dari aktivitas tersebut. Menguatnya gaya hidup konsumtif selama bulan Ramadan menunjukan adanya pergeseran nilai puasa Ramadan. Ibadah puasa Ramadan yang sejatinya dimaknai sebagai laku pengendalian diri dari nafsu manusia kini bergeser menjadi ruang berkembangnya budaya konsumenrisme, sehingga konsumsi di bulan Ramadan menjadi semakin tidak terkendali.

Menurut sosiolog Kontemporer Jean Baudrillard, budaya konsumtif ini sudah lama mengalami pergeseran makna. Masyarakat sekarang tidak lagi mengonsumsi sebuah objek berdasarkan kegunaan dan nilai tukarnya, tetapi karena adanya nilai simbolik dan nilai yang bersifat abstrak. Bagi Baudrillard, sebuah objek tidak hanya memiliki use value dan exchange value, tetapi juga memiliki symbolic value dan sign value.

Ramadan sebagai bulan suci dan identik dengan belomba-lomba meningkatkan ibadah serta ketakwaan kepada Allah SWT, kini berubah menjadi bulan konsumtif, juga identik dengan sampah yang bertambah signifikan. Ramadan juga menjadi ajang untuk masyarakat berlomba-lomba untuk membeli dan menjual menu makanan untuk berbuka puasa. Memang, jika dipandang dari segi ekonomi masyarakat kebiasaan ini meningkatkan kualitas perekonomian. Namun jika dipandang dari sudut pandang use value (nilai guna) dan exchange value (nilai tukar) maka kegiatan masyarakat tersebut bisa dibilang sudah melampaui kebutuhan yang semestinya.

Tidak salah sebagai seorang manusia normal yang selalu ingin memiliki dan membeli berbagai hal (konsumerisme). Namun substansi di dalam puasa sangatlah bertolak belakang dengan sifat manusia yang satu ini. Puasa seharusnya diwajibkan agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu (konsumtif), meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Peningkatan perilaku konsumerisme yang tinggi ini tentu bertolak belakang pula dengan firman Allah SWT dalam Al-qur’an surat Al Araf ayat 31 yang berbunyi “ Hai anak adam pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Berdasarkan data dari Food Sustainibility index tahun 2017, setiap orang di Indonesia menghasilkan sampah makanan sebesar 300 kg per tahun. Menurut survei yang dilakukan oleh Research Gate pada tahun 2015 di Mesir, selama Ramadan, 60% makanan saat kumpul keluarga terbuang sia-sia. Sementara itu data dari Bantargebang Integrated Wasted Treatment site, sampah makanan meningkat hingga 10% selama bulan Ramadan. Bahkan pada hari pertama puasa, tempat pembuangan sampah Bantargebang mencatat tambahan 864 ton sampah.

Sejumlah aktivis lingkungan memperkirakan setidaknya terjadi peningkatan 500 ton sampah makanan khusus Ramadan. Hal ini mengakibatkan efek buruk bagi lingkungan. Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh dengan intropeksi diri untuk lebih peka terhadap persoalan lingkungan. Ramadan yang seharusnya menjadi sarana menahan nafsu jasmani kini malah tak terkendali.

Lantas bagaimana kita membelenggu setan yang justru itu adalah diri kita sendiri? Daya konsumtif yang berlebihan dan penggunaan kemasan sekali pakai pada pembagian ta’jil gratis mengakibatkan sampah menumpuk dan malah merusak lingkungan yang kita singgahi. Yang tadinya berniat baik dan mencoba peduli terhadap sesama malah menimbulkan problematika baru bagi kita. Apakah kita sedang membagikan pahala sekaligus dosa dibulan suci ini?

Semoga tulisan ini menjadi refleksi untuk kita semua dalam memaknai nilai-nilai yang terkandung di dalam bulan yang amat suci ini, sehingga kita memiliki inovasi-inovasi yang fresh dalam beribadah puasa dan menjaga lingkungan kita untuk tetap terjaga. (Moch. Alfaizi)

Editor: Moch. Tanreha

Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Pemprov Jatim Raih Penghargaan Provinsi Berkinerja Terbaik Penerapan SPM dari Kemendagri

18 Mei 2022 - 22:40 WIB

Halal Bihalal Warga Kampung, Ketua DPRD Surabaya Angkat Keguyuban dan Gotong Royong

18 Mei 2022 - 22:04 WIB

Anies Jalin Kesepakatan Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan dengan Berlin

18 Mei 2022 - 19:06 WIB

PPDB SMPN Surabaya Dimulai, Simak Tahapan dan Cara Pendaftarannya!

18 Mei 2022 - 18:53 WIB

Macron Desak Israel untuk Investigasi terkait Pembunuhan Shireen Abu Akleh

18 Mei 2022 - 12:28 WIB

Shireen Abu Akleh-Tempo

Peci Terdakwa Disoal Jaksa Agung, sebagai Trik Kuno

18 Mei 2022 - 12:05 WIB

Trending di kempalanalisis