Termasuk 5 pejabat hasil lelang jabatan eselon 2 di Pemkab Sumenep. Riuh di medsos. Tapi adem ayem di dunia nyata.
Namun ada yang membisiki: emang sunyi mas. Tapi seperti api dalam sekam.
Lalu si teman mengirim sebuah tulisan yang beredar di berbagai Grup-Grup WhatsApp.
Begini isi lengkap tulisan itu:
Ini Tulisana Siapa?
Untuk Sahabat dan Orang-orang yang Selama Ini Terjalin Emosi
Anda perlu ngerti.
Kenapa saya tak terlalu usil melihat praktik-praktik berjamaah. Praktik ugal-ugalan.
Saya sadar.
Menyampaikan ke jalur yang benar seperti menegakkan benang basah. Mereka seperti orang yang pura-pura tidur.
Percuma melangkah meniru para pejuang 45. Toh Indonesia sudah merdeka. Generasi penerus yang menikmati.
Emang.
Setidaknya praktik-praktik itu bisa disuarakan ke publik. Biar publik bisa menilai.
Meski publik sudah cerdas. Bisa menilai yang hak dan bathil. Mana yang ber-nurani dan zalim. Mana yang bertopeng lugu dan sederhana, tapi berwujud angkara murka.
Hanya mereka enggan bersuara. Tak punya sejarah sebagai pemberontak. Mereka selalu memegang tradisi tawasuth, tasamuh dan tawazun.
Namun dalam hatinya menangis. Hanya berseru kepada Allah SWT, Penguasa Alam Raya.
Mereka menyerahkan sepenuh urusan kepada-Nya.
Ngantos murka alam.
Jika semua mingkem. Dan larut pura-pura tidur. Sambil Ngaot.
Saya tak bisa memberi komentar tulisan misterius itu.
Saya menafsiri: substansi tulisan itu, seperti pribahasa Madura:
Loka Ta’ Adhara
Epengkot Ta’ Atale
Tafsir singkat saya tak dijawab oleh si teman.
Barangkali dia lagi puasa. Mau yahannu, takut dosa.
Habis….
sambungan dari tulisan sebelumnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi