Selebritas Agus Dwi Saputra

waktu baca 4 menit
Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Agus Dwi Saputra (kiri) saat menemui aktivis PMII STKIP PGRI Sumenep.
Hambali Rasidi

Oleh: Hambali Rasidi, Kontributor kempalan

KEMPALAN-Era informasi digital saat ini, setiap orang bisa menjadi selebriti. Tak perlu proses panjang. Termasuk tanpa banyak ngeluarin biaya untuk menjelma jadi sosok yang populer.

Setiap orang, tanpa sekat sosial dan profesi-tiba-tiba terkenal setelah menjadi trending bahasan di media sosial. Dalam sekejap orang itu jadi tema yang selalu diperbincangbangkan di perkantoran dan warung-warung kopi.

Selebriti itu kian seksi ketika menyesaki berbagai platform media sosial. Gambarnya berseliweran di twitter. Banyak orang ikut memposting di Facebook. Sebagian nayangin video di Youtube, Tiktok dan Instagram.

Fenomena baru di era digital ini bisa menyulap orang jauh jadi dekat. Menyulap orang asing jadi akrab di dengar telinga. Mencipta orang kecil menjadi orang besar.

Dalam guyonan di salah satu Grup WhatsApp di Sumenep beberapa waktu lalu, ada celoteh menarik. Anggota WA Grup itu menulis begini: Seandainya di survei, nama Pak Fauzi (Bupati Sumenep, maksudnya) pasti kalah populer dengan Agus Dwi Saputra.

Obrolan netizen di WA Grup itu saya anggap sebatas celoteh. Tak perlu ditanggapi serius. Dia hanya spontan melihat nama Agus Dwi Saputra yang seketika bak selebriti.

Gambar dan video Agus Dwi Saputra berseliweran di berbagai media mainstream dan platform media sosial.

Nama Agus Dwi Saputra sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sumenep juga trending di mesin pencarian google. Termasuk viral di kompas tv.

Hebat, kan?

Bisa jadi-celoteh nama Agus Dwi Saputra di berbagai Grup WA-,Di Atas Sumenep Di Bawah Jakarta-merujuk fenomena selebritas efek unjuk rasa aktivis PMII STKIP PGRI Sumenep.

Memang, dalam seminggu ini nama Agus Dwi Saputra kian populer setelah sering diberitakan berbagai media pasca dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sumenep.

Popularitasnya bak selebritas.

Ketenaran Agus Dwi Saputra (ADS) sebenarnya sudah lama di lingkungan birokrasi Pemkab Sumenep. Hanya saja popularitasnya mulai merangkak sejak Fauzi-Eva dilantik sebagai Bupati dan Wabup Sumenep hasil Pilkada 2020.

ADS kerap dipercaya oleh MH Said Abdullah, si paman Bupati Sumenep Achmad Fauzi untuk melakukan hal-hal yang di luar tugas sebagai kepala OPD.

Salah satu contoh tugas yang diemban ADS di luar tugas birokrasi adalah saat MH Said punya gawe besar menggelar resepsi pernikahan putranya di Kampung Arab, Sumenep. ADS ditunjuk sebagai Ketua Panitia Resepsi.

Hebat ADS. Orang Jawa. Tak punya aliran darah dengan MH Said. Tapi dipercaya sebagai penyambung lidahnya.

Sosok ADS bisa dibilang komplit. Ganteng. Postur tinggi. Alumni Sekolah Pamong Praja. Mudah diajak bicara.

Itu yang saya tangkap sejak kenal 2011 lalu. Waktu ADS masih jadi Sekcam. Kerap ketemu saat main ke rumah sahabat saya. Tuan rumah itu orang dekat MH Said.

Sejak itu, ADS nyambung dengan MH Said melalui wasilah sahabat saya. Ketersambungan itu ternyata berlanjut hingga Achmad Fauzi, keponakan MH Said menjabat Bupati Sumenep 2021-2025.

Saat momentum pengisian pejabat eselon 2 hasil SO Baru, Jumat (31/12) kemarin. ADS dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sumenep.

Bagi pemburu berita. Tidak ada yang menarik dari pelantikan ADS sebagai pejabat Disdik Sumenep. Meski sempat dengar kasak kusuk protes dari anggota Komisi 1 DPRD Sumenep terkait ADS jabat Kadisdik Sumenep. Dalilnya macam-macam. Hanya ketika diminta komentar resmi untuk bahan berita. Signal telpon si dewan ilang karena berada di atas lautan. Perjalanan dari kunker ke pulau pulau Sumenep.

Saya punya harapan besar kepada ADS untuk membawa kemajuan dunia pendidikan.

Hanya saja ADS kurang adaftif untuk lebih membumi di kultur Sumenep yang punya kekhasan kearifan lokal. Sebuah kultur yang tak bisa hanya dilihat secara formal dan material.

Teori Filsuf Amerika, John Locke yang menilai kebenaran berdasar pengalaman yang dilihat dan didengar tak bisa diterapkan di Sumenep.

ADS perlu banyak belajar bab tengka. Sebuah ajaran nilai kultur masyarakat Sumenep.

Saya teringat, pesan kebijakan orang orang Sumenep dahulu: Tengka Cong, parlo etegguk. Percoma oreng pinter. Oreng soghi ben apangkat. Tape, tengka tak eangguy. Oreng jeria tadha’ artena. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *