Jumat, 3 Juli 2026, pukul : 03:49 WIB
Surabaya
--°C

Alumni IPDN dan Raden Bagus (2-Habis)

Pelantikan Pejabat Sumeenp

Di usia saya yang transisi. Belum masuk sepuh. Juga lewat kategori milenial. Kadang banyak yang nyemprot. Gegara ikut-ikutan yang bukan maqam saya, katanya.

Tapi saya cuek saja semprotan itu. Toh melakukan yang bukan maqam-katanya. Saya anggap itu bukan maqam jalan salik. Sebagaimana dawuh Syech Ibn Athaillah Iskandariyah di al-Hikam.

Saya berprinsip asal hati suka. Menyuarakan yang sekiranya terlampau angkuh. Ugal-ugalan bersepeda di jalan raya, yang dianggap milik pribadinya.

Si kawan di Grup WhatsApp secara vulgar menegur saya denga kata-kata begini:

Duh nape mempersoalkan mutasi. Kalau tak mau dimutasi kok mau jadi PNS. Terlalu, ente nuduh penguasa zalim.

Saya diam tak meluruskan semprotan si teman.

Lain kesempatan.

Si teman mengirim gambar video aksi mahasiswa untuk 11 April ke sejumlah Grup WhatsApp.

BACA JUGA  Prabowo, Oligarki, dan Pertarungan Mewujudkan Pasal 33 UUD 1945

Si teman memberi pengantar kurang lebih begini; saatnya kezaliman dilawan dengan suara kebenaran. Dengan jumlah adik-adik mahasiswa ini, siapa yang mau bayar.

Nah kebetulan, pikirku.

Dulu, saya mau jelasin takut gak nyambung. Saya mau ngomong kalau apa yang ditulis bukan karena benci ke pribadinya. Bukan mau melawan ke pribadinya

Saya ingin mengatakan untuk melawan keangkuhan: kesombongan. Semena mena kepada yang lemah.

Hingga sesumbar ke banyak orang, kalau dirinya bisa berbuat. Memutasi PNS-lebih susah membuang puntung rokok.

“Wih…sombong banget,” dalam hati.

Saya teringat tulisan seorang netizen:

“Luka hati yang terdzalimi akan mengadu hingga arsy bergetar,”.

Cukup momen yang ditunggu. Si teman nyentil penguasa zalim. Saya jawab dalam percakapan grup itu:

Kenapa anda kok masih percaya pada narasi penguasa zalim?

Bukankah anda sendiri yg bilang, Duh Nape na mon tak nerima mutasi kok jadi PNS.

Itu korban kezaliman. Dipilih baru ditebang,“.

BACA JUGA  Nafsu Kuasa Jokowi Masih Membara

Saya tunggu jawaban si teman dari penjelasan itu. Tapi tak jawab-jawab.

Berbagai Grup WhatsApp saya anggap sebagai sarana berkomunikasi. Sarana meraih mimpi.

Berteman dan akrab di medsos, terkadang tak pernah ketemu fisik. Tukaran di medsos. Kalau ketemu darat, sengar sengir dan berpeluang.

Kalau mau dibandingkan sama dengan kisah seseorang yang masih hidup di dunia. Tapi sudah akrab dengan para malaikat dan para arwah Waliyullah.

Dalam konteks agama, berbagai platform medsos, bisa dianggap sebatas wasilah. Tergantung kita mengarahkan wasilah itu kemana.

Persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik dan lainnya banyak tercurahkan di berbagai platform medsos. Tinggal kita milih. Mana yang bisa diambil sesuai nurani.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.