Ruang publik seperti Malioboro tidak seharusnya dipakai untuk memamerkan ekspresi keagamaan. Prof Al Makin malah mengusulkan supaya pemerintah meregulasi ruang publik supaya tidak sembarangan dipakai untuk ekspresi keagamaan.
Di mana pun, yang namanya ruang publik atau public sphere adalah ruang yang terbuka untuk masyarakat. Bisa dipakai untuk apa saja, asal tidak melanggar aturan formal. Malioboro adalah ruang publik yang terbuka untuk aktivitas apa saja. Menari, menyanyi, membaca puisi, atau ekspresi lainnya.
BACA JUGA: Jokowi, Uraa..
Membaca Alquran massal tidak diatur dalam agama. Tapi, tradisi membaca Alquran massal menjadi budaya dan bagian dari syiar Islam. Masyarakat Jawa mempunyai tradisi nyadran atau megengan menjelang Ramadhan dengan mengunjungi makam orang tua atau leluhur. Tradisi ini merupakan pengaruh dari Hindu yang terus lestari sampai sekarang di beberapa daerah.
Beberapa kalangan Islam mengubah tradisi ini dengan memberinya nafas. Membaca Alquran masal di Malioboro itu merupakan bagian dari tradisi pra-Puasa yang coba diwarnai dengan warna yang lebih islami.
Di Jawa Timur tradisi membaca Alquran massal dilakukan dalam bentuk khataman yang bisa diikuti puluhan dan ratusan orang. Sema’an Alquran yang dipimpin oleh kiai karismatis di Jawa Timur bisa diikuti oleh ribuan sampai puluhan ribu orang.
BACA JUGA: Madrasah
Kiai karismatis seperti almarhum Gus Mik alias K.H Hamim Jazuli, sangat terkenal dengan pengajian sema’annya. Setiap mengadakan sema’an ribuan sampai puluhan ribu jamaah ikut menyimak sampai semalaman. Dengan suara gemuruh yang seragam, semaa’an ala Gus Mik ini menjadi flash mob besar yang punya nilai artistik tinggi.
Tidak pernah ada yang memprotes Gus Mik. Siapa juga yang berani memprotes kiai karismatik sekelas Gus Mik. Almarhum Gus Dur pun hormat kepada Gus Mik. Tidak pernah ada yang mengritik Gus Mik dengan menganggapnya menjarah ruang publik, seperti yang dikatakan Prof. Al Makin terhadap atraksi baca Alquran di Maliboro.
Baca Alquran di Malioboro itu tidak ada bedanya dengan atraksi-atraksi seni lainnya. Pada Februari 2020 Jalan Malioboro ditutup untuk tari massal siswa Akademi Angkatan Udara. Mereka menggelar flash mob membawakan tarian Beksan Wanara alias tarian monyet. Tarian itu merupakan bagian dari fragmen epos Ramayana yang menggambarkan pasukan monyet pimpinan Hanuman membantu Pangeran Rama menyerang Rahwana di Alengka yang telah menculik Dewi Sinta.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi