
Catatan Ekonomi Bambang Budiarto
KEMPALAN: Seminggu sudah Pertamina Grand Prix of Indonesia di Mandalika berakhir. Cerita highside-nya Marc Marquez sudah, terbakarnya motor Alex Rins sudah, kegagalan Mario Suryo Aji naik podium juga sudah. Aksi heroik mbak Rara sang pawang hujan-pun sudah. Pendek kata nama Mandalika sekarang telah menjelma menjadi satu kata yang sangat menyita perhatian, dikenang dan dikenal dunia.
Didukung dengan segala keramah tamahan warga dan lingkungannya, perhelatan Mandalika nyaris sempurna. Harapan ekonominya tentu tidak hanya berhenti pada serapan 11.000 tenaga kerja yang terlibat dalam big event dengan capaian perputaran uang Rp500 miliar seperti release Pertamina.
Dengan telah lancar, aman, dan suksesnya acara, setelahnya diharapkan yang terjadi adalah para pelaku pariwisata, ekonomi kreatif serta UMKM masih berkelanjutan merasakan langsung dampak kebangkitan ekonominya. Dengan bahasa yang lebih sederhana, semua menunggu pergerakan ekonomi dari sebuah keramahan yang telah terjadi yang telah dilakukan. Panitia sudah bekerja dengan baik, warga menyambut antusias pembalap peserta lomba dan penonton asing, presiden pun dengan ramah menjamu ngobrol dan makan bareng dengan hampir seluruh pembalap. Begitulah makna ekonomi dan harapan ekonomi dari sebuah keramahan.
Seminggu setelah itu semua, tepatnya Jumat 25 Maret 2022 berlokasi di Bali, geser sedikit dari Mandalika, nampak presiden meluapkan kemarahannya. Di hadapan menteri, kepala lembaga, kepala daerah, dan BUMN, agenda terkait aksi afirmasi Bangga Buatan Indonesia ini sedikit mengalami pergeseran, dari pengarahan menjadi kemarahan. Lain Mandalika lain Bali, lain suasana lain situasi.
Semarah-marahnya pemain bola di lapangan hijau paling berakhir kartu merah, marahnya selebritis biasanya berujung kemeriahan berita di infotainment. Marah emosionalnya seorang guru mungkin sampai pada hasil evaluasi negatif bagi siswa. Selanjutnya, marahnya pejabat daerah, pada gilirannya hanya akan sekadar menjadi konsumsi publik di berbagai media online.
Marahnya seorang presiden tentu berbeda. Dalam catatan presiden diketahui bahwa realisasi pengadaan barang dan jasa dalam negeri baru di angka Rp 214 triliun, 14% dari besaran anggaran Rp 1.481 triliun. Dalam tataran konsep dasar, untuk ukuran aktivitas mendekati satu semester, prosentase ini tergolong lambat.
Sebaran anggaran pengadaan barang dan jasa di 2022 diketahui sebagai berikut; anggaran pusat sebesar Rp 526 triliun, daerah Rp 535 triliun, dan BUMN Rp 420 triliun. Dari besaran ini jika 40% saja digunakan untuk belanja barang dan jasa dalam negeri tentu akan mampu memberikan perputaran yang cukup membanggakan.
Poin kemarahan Presiden tertuju pada fakta bahwa ternyata cukup banyak barang yang dibeli dari impor padahal anak bangsa diyakini mampu berproduksi; CCTV, sepatu aparat, alat-alat kesehatan, tempat tidur pasien di rumah sakit, juga pulpen dan buku tulis. Tidak ketinggalan alat-alat pertanian seperti traktor. Dalam pemahaman presiden jika keseluruhan inventaris tersebut dibeli dari produksi lokal, tentu memiliki manfaat ekonomi bagi para pelaku usaha pada unit-unit kegiatan ekonomi bangsa sendiri.
Masyarakat, utamanya pelaku usaha tentu tidak terlalu perlu tidak terlalu membutuhkan berita-berita kemarahan presiden, apalagi jika sudah ditambah kurangi untuk kepentingan tertentu. Masyarakat menunggu manfaat ekonomi dari marahnya pak presiden ini. Apabila setelahnya diikuti dengan belanja barang dalam negeri oleh kementrian, kepala daerah, atau lembaga, juga BUMN terkait, tentu marahnya presiden boleh dikatakan mampu menjadi mantra-mantra bagi pertumbuhan ekonomi.
Namun apabila tidak mampu menjadi magnet dalam belanja ekonomi, tentu perlu dikeluarkan senjata-senjata pamungkas dengan beragam bentuknya; inpres dan/atau perpres. Pertanyaannya sekarang adalah, dengan memahami komparasi kedua kondisi tersebut, manakah yang lebih mampu menciptakan pergerakan ekonomi, keramahan atau kemarahan? Salam. (Bambang Budiarto–Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi