Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 17:46 WIB
Surabaya
--°C

Semburan Narasi Jahat Terus Dimunculkan, Upaya Mengganjal Laju Anies

KEMPALAN: Sepatutnya para buzzer berterima kasih pada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sepertinya Anies lah yang memberi pekerjaan. Tentu secara tak langsung. Lewat “jalan” Anies lah pekerjaan itu didapat. Namun hasil yang diharap justru berkebalikan. Adalah hal mustahil jika Anies mengharap caci maki para buzzer dengan tidak semestinya. Kerap pula dihunjam fitnah.

Para buzzer itu bertumbuh dalam kolam yang sama. Punya tugas yang sama: merusak nama baik Anies Baswedan. Meski sebab Anies lah para buzzer itu ada, dan mendapat pekerjaan.

Anies seolah jadi perantara tak langsung mereka berpenghasilan. Tentu gaji diberikan oleh pihak yang tak suka akan keberadaannya. Anies tak boleh jadi kekuatan besar, yang mampu memporak-porandakan “bangunan” jahat oligarki menguras negeri ini. Dan yang hanya menyisakan ampas untuk rakyat kebanyakan.

Maka, segala cara diikhtiarkan menghalangi langkahnya bisa menjadi besar. Karenanya, jasa para buzzer dipilih. Semua kerja Anies sebagai karya kolaborasi dengan jajarannya, meskipun spektakuler dinafikan. Opini yang disebar justru sebaliknya, Anies gagal memimpin ibu kota. Tanpa perlu memberi parameter kegagalan yang dimaksud.

Nalar publik ingin dikacaukan, meski yang terlihat nyata adalah karya Anies, tapi tetap disebut bukan karyanya. Itu gagasan pendahulunya. Anies cuma kebagian melanjutkan. Narasi-narasi jahat terus diproduksi tak henti. Tidak penting orang percaya atau tidak. Bahkan tidak penting upaya membelokkan nalar, itu berhasil atau tidak.

Mereka dibayar sepertinya hanya untuk “menggonggong”. Mereka bisa diserupakan layaknya anjing, yang hanya dilatih pada siapa narasi gonggongan itu mesti diarahkan. Pekerjaan hina yang patut dikasihani.

BACA JUGA  Integrasi Kota Taman dan Hutan Kota untuk Masa Depan Surabaya

Anies tidak punya riwayat buruk, atau setidaknya dikesankan buruk sebelumnya. Sebagai Gubernur DKI Jakarta, sejak 2017, tidak terdengar Anies melakukan perbuatan tak patut model hengki pengki, atau semacamnya. Jika saja ada perbuatan tak terpuji dilakukan, sekecil apapun, maka hukum akan menjeratnya. Karenanya, jasa buzzer menjadi tak perlu. Jalan lurus Anies sebagai pejabat, tentu buat resah pengusaha nakal. Anies menjadi penghalang mereka yang merasa digdaya mampu berakrobat sesukanya.

Maka, tidak ada cara menghentikan Anies kecuali membicarakan dengan tidak sebenarnya. Olok-olok dan fitnah dibuat. Imej Anies buruk terus digelorakan. Para buzzer terus menggonggong tanpa henti, dan uang sekadarnya akan mengalir ke kocek mereka. Semua yang berbau karya Anies dibuat sebaliknya.

Banjir Jakarta pada era Anies relatif jauh berkurang dibanding era kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan bahkan saat Gubernur DKI Jakarta dijabat Joko Widodo (Jokowi). Di era Anies banjir memang belum benar-benar bisa diatasi menjadi Jakarta bebas banjir, tapi jauh berkurang. Nyatanya memang demikian. Dalam hitungan jam saja banjir sudah surut. Membantahnya, itu cuma menafikan nalar.

Sumur resapan yang dibuat Anies, yang itu menjadikan air bisa cepat terserap ke tanah, jadi bahan olok-olok. Padahal anak dan menantu Presiden Jokowi memakainya. Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo memakai sumur resapan “temuan” DKI Jakarta. Begitu pula Muhammad Bobby Afif Nasution, Walikota Medan. Olok-olok pada Anies tentu tidak mengena pada Gibran dan Bobby. Narasi mengolok-olok dikhususkan semata untuk Anies Baswedan.

BACA JUGA  ‘Data Center’, Air, dan Pelajaran dari Konflik ‘Google’ di Iowa

Bahkan bukan cuma buzzer berbayar yang menghajar Anies, tapi juga setidaknya dua partai politik, PDIP dan PSI. Dua Fraksi DPRD DKI Jakarta, itu bisa dibilang yang paling aktif menyoroti kerja-kerja Anies dengan tidak semestinya. Terkesan mengada-ada. Cenderung mencari-cari kesalahan, meski tak mampu menemukannya. Sikap mencari-cari kesalahan, justru menaikkan nilai positif Anies dihadapan publik luas, tidak sebatas publik Jakarta.

Sikap mencari-cari kesalahan pada Anies dan jajarannya, bukannya efektif tapi justru sebaliknya. Yang muncul sikap antipati pada dua fraksi itu. Bagaimana mungkin kerja-kerja Anies yang terukur tidak sedikitpun diapresiasi. Justru disikapi berkebalikan.

Muncul nama-nama tertentu, boleh disebut paling nyinyir mengoreksi kerja-kerja Anies dengan mengada-ada. Gilbert Simanjuntak menjadi paling masyhur sebagai anggota dewan (PDI-P). Ia paling nyinyir terhadap Anies. Gilbert dan beberapa nama lain bersikap demikian, itu pastilah tidak terlepas dari kebijakan partainya.

Maka, sekali lagi, sepertinya memang Anies Baswedan lah yang “mempekerjakan” para buzzer itu, meski tidak secara langsung. Tugasnya, bicara tentang Anies dengan tidak sebenarnya. Dan, itu pembusukan. Mencari celah kesalahan Anies meski tak ditemukan. Tetap saja narasi jahat diletupkan, Anies Gubernur goblok, Anies Gubernur gagal, dan umpatan rasis lainnya. Tidak pantas disebut.

Sikap lurus Anies itulah yang memunculkan para buzzer dan para pengeritik kalap, yang berbicara tanpa data sebenarnya. Bicara mengulang-ulang dengan tidak sebenarnya, berharap ada yang nyangkut mempercayainya. Itulah tugas mereka. Dan, itu untuk mengganjal Anies menuju perhelatan Pilpres 2024. Wallahu a’lam. (*)

Editor: Muhammad Tanreha

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.