Jumat, 5 Juni 2026, pukul : 07:43 WIB
Surabaya
--°C

Bos Kapal Api Dulu Disebut ‘Arek Sempel’

Soedomo bawa ransel, sleeping bag, tabung lilin untuk tidur, perlengkapan penerangan sekadarnya, alat masak yang juga sekadarnya. Mirip orang mau berkemah. “Dingin luar biasa. Sekali ke sana, paling cepat saya dua minggu baru turun. Tapi apa yang saya mau katakan, sampai hari ini, tidak ada untung sama sekali,” ujar Soedomo, pahit.

Soedomo pun berkisah. Tenaga kerja di sana sangat susah diajak sinergi. Berbeda dengan zaman Belanda yang barangkali setengah kerja paksa. Sesuatu yang tidak bisa lagi digunakan di era kemerdekaan. Suatu ketika, Soedomo membawa tenaga kerja dari Jawa. Bupati tidak berkenan, dan memaksa harus menggunakan tenaga kerja lokal.

Soedomo bersikukuh mempertahankan tenaga dari Jawa dengan dalih, warga di sekitar tidak ada yang bisa mencangkul. Justru dengan didatangkan pekerja dari Jawa, Soedomo bermaksud mengajarkan penduduk setempat bagaimana mencangkul dan merawat kebun kopi.

Repot Asmara Pekerja

Perkara muncul, ketika para pekerja perkebunan kopi dari Jawa itu lalu menjalin kisah asmara dengan penduduk lokal. Begitu si perempuan hamil, pekerja asal Jawa ini kabur.

“Ini sungguh-sungguh terjadi, ketika suatu hari datang ibu-ibu membawa anak bayi minta pertanggungjawaban…. Wah, siapa yang berbuat, siapa pula yang harus bertanggung jawab,” kata Soedomo sambil berderai tawa.

BACA JUGA  Kenapa NPD Masih Terus Berbohong

Atas nama kemanusiaan, Kapal Api menanggung mereka semua, mulai dari persalinan sampai pendidikan. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya bekerja di perkebunan kopi milik Kapal Api.

“Itulah sejarahnya Kapal Api punya banyak anak. Anak manusia beneran… ha… ha… ha….,” tambah Soedomo.

Pameo lama “banyak anak banyak rezeki”, kiranya tak bisa dipungkiri, pas dengan perkembangan Kapal Api. Buktinya, bisnis kopinya makin berkembang. Saat ini, Kapal Api memiliki 50 kantor cabang dengan jumlah karyawan sekitar 7.000 orang.

Jumlah kendaraan operasional dan distribusi Kapal Api tak kurang dari 850 unit. Praktis, armada Kapal Api menjadi satu perusahaan logistik terbesar di Tanah Air di bawah naungan PT Fastrata Buana.

Soedomo juga mengembangkan bisnis coffee shop dengan brand Excelso. Ia merintis usaha itu sejak 1992. Hingga tahun 1998, bisnis coffee shop-nya masih merugi. Nah, pasca krisis moneter, usaha itu bangkit pelan-pelan, dan kini sudah berkembang menjadi 150 gerai di seluruh Indonesia.

Mirip teori Rockefeller, maka Soedomo pun menggarap pengembangan pasar, untuk meningkatkan omzet bisnisnya. “Sampai sekarang, kami masih terus mengedukasi dan mensosialisaikan budaya ngopi kepada masyarakat, utamanya lapisan generasi muda. Makin besar jumlah peminum kopi, makin besar peluang bisnis kopi,” ujar Soedomo berteori.

BACA JUGA  Polsek Sidoarjo Kota Cek Lahan Jagung di Desa Lebo, Dukung Program Ketahanan Pangan

Takut Hilang Suami

Lumayan panjang daftar ekspansi usaha Soedomo. Selain yang sudah tersebut di atas, masih ada PT. Santos Premium Krimer, produsen produk berorientasi krim. PT. Sulotco Jaya Abadi merupakan produsen kopi Arabica Toraja yang menjunjung tinggi kualitas.

Kemudian, PT Agel Langgeng, salah satu perusahaan permen dan biskuit terbesar di Indonesia yang didirikan Soedomo pada tahun 1991. Terakhir, Soedomo merambah bisnis kecantikan. Lho!!!

Dengar dulu kisahnya. Dengan pembawaan yang jenaka, Soedomo memulai kisah, bagaimana ia akhirnya nyemplung ke bisnis kaum hawa. “Saya melihat peluang itu justru ketika makin banyak wanita Indonesia mengenakan hijab. Karena tidak bisa memperlihatkan keindahan rambut sebagai mahkota, maka fokus para wanita beralih ke wajah,” katanya mengawali cerita.

Maka, berbondong-bondonglah kaum wanita ke rumah kecantikan untuk menghilangkan flek di wajah, menghilangkan komedo, menghilangkan tanda-tanda aging (penuaan), memperbaiki alis, dan sebagainya.

“Jangan lupa, mereka berani bayar mahal lho! Ada yang satu paket perawatan sampai 10 juta bahkan 20 juta rupiah,” katanya.

Melihat peluang itu, Soedomo pun mengambil alih perusahaan kecantikan dengan brand Miracle dan Meliderma. Di Surabaya, kedua klinik kecantikan ini melayani dua kelompok masyarakat. Miracle untuk kelas atas, sedangkan Meliderma menyasar golongan menengah-bawah.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.