KYIV-KEMPALAN: Ketika operasi militer Rusia sudah memasuki hari keenam, salah satu resimen militer sayap Kanan dari Ukraina mulai menarik perhatian kembali.
Resimen Sayap Kanan Ukraina tersebut bernama Resimen Azov yang merupakan “Neo-Nazi” dan ingin dihancurkan oleh Putin.
Dalam ucapan Putin untuk memulai operasi militernya, Putin mengucapkan tujuannya yaitu melakukan operasi untuk demiliterisasi dan “De-nazifikasi” di Ukraina.
Resimen Azov merupakan pasukan sayap Kanan—dengan perkiraan 900 orang yang memiliki ideologi ultra-nasionalis, Neo-Nazi dan Supremasi Kulit Putih.
Resimen tersebut terbentuk pada Mei 2014 silam berbarengan dengan pembentukan Neo-Nazi Social National Assembly (SNA).
Kedua kelompok tersebut kemudian menyebarkan ideologinya yang Xenophobia dan menerapkan nilai-nilai Neo-Nazi.
Secara jelasnya, pada tahun 2015, juru bicara Resimen Azov yaitu Andriy Diachenko mengatakan bahwa 10% hingga 20% isi dari resimennya merupakan seorang Nazi.
Penggunaan simbol Nazi seperti Swastika dan SS Regalia juga dapat dilihat dari seragam Resimen Azov.
Pada Minggu (28/2), Pasukan Nasional Ukraina melakukan cuitan di Twitter yang menunjukkan Resimen Azov sedang membalut pelurunya dengan minyak babi untuk memberikan gertakan kepada pasukan Muslim Chechnya.
Resimen Azov juga berperan besar dalam kaitannya melatih warga sipil Ukraina untuk mempersiapkan serangan Rusia.
Kemudian juga pada tahun 2014, resimen ini sangat berperan aktif di garis terdepan untuk melawan pasukan separatis di Donetsk dan Luhansk.
Resimen Azov pernah berhasil mengambil kembali Kota Mariupol dari genggaman Separatis Rusia, yang kemudian membuat pemerintah Ukraina mengakui keberadaan resimen tersebut dan kemudian menggabungnya kepada Pasukan Nasional Ukraina pada 12 November 2014.
Presiden Ukraina pada saat itu yaitu Petro memberikan pujian kepada resimen tersebut dengan mengatakan “Pejuang Terbaik dan Relawan Terbaik Ukraina” pada tahun 2014.
Lalu, pada tahun 2016, Badan PBB yang mengurusi HAM yaitu OCHA merilis laporan bahwa Resimen Azov terlibat dalam pelanggaran hukum internasional.
Secara detail, laporan tersebut menyebutkan bahwa pada periode November 2015 hingga Februari 2016, Resimen Azov memaksa penggunaan bangunan warga sipil untuk tempat berlindung dan juga melakukan perampasan kepada warga sipil.
Disebutkan juga terdapat tindakan pemerkosaan dan penyiksaan warga sipil di Kawasan Donbas oleh Resimen Azov.
(Muhamad Nurilham, Aljazeera)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi