Menu

Mode Gelap

Kempalanbis · 28 Feb 2022 06:35 WIB ·

Bukan Salah Gula jika Terlahir Manis    


					Ilustrasi gula. Perbesar

Ilustrasi gula.

Bambang Budiarto (penulis).

Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: Sangat mudah dikatakan bahwa dalam tataran teori pada saat pendapatan naik,  konsumsi ikut naik dan pada saat pendapatan turun maka konsumsi pun ikut turun. Tidak ada seorangpun yang mampu dan berani menjamin hal tersebut dapat terjadi, karena faktanya dalam masyarakat bisa berbeda. Saat pendapatan naik dipastikan konsumsi ikut naik, namun pada saat pendapatan turun ternyata konsumsi tetap naik atau minimal tetap dan tidak mau diajak turun.

Sekalipun pendaptan seseorang naik turun, apapun situasi dan kondisinya, sebagai warga negara pasti bertemu dengan yang namanya pungutan yang dilakukan oleh pemerintah; retribusi, pajak, bea, cukai, dan sumbangan. Sesuai konsep dasar memang 5 hal itulah yang lazim disebut dan dipahami masyarakat.

Sumbangan, jenis ini mungkin sangat jarang terdengar tapi sejatinya ada, sumbangan warga negara yang diberikan secara sukarela oleh masyarakat untuk pemerintah. Empat bentuk yang pertama adalah yang populer. Dengan bahasa sederhana, restribusi sering dipahami sebagai pungutan oleh pemerintah dikarenakan masyarakat telah memanfaatkan fasilitas publik.

Retribusi parkir, terjadi karena seseorang telah memanfaatkan lahan parkir. Lain retribusi lain pula pajak, ini adalah pungutan yang dapat dipaksakan dan si wajib pajak akan mendapat manfaat secara tidak langsung atas pajak yang sudah dibayarkannya. Dengan berbagai jenis dan bentuknya, pajak ini yang paling populer dan dikenal di masyarakat; di tingkat pusat, di daerah, langsung, tidak langsung, dan lain-lain.

Hal yang berbeda terjadi untuk bea, pengenaannya ada di barang-barang ekspor dan barang impor. Tentu saja terdapat pengelompokkan atas jenis-jenis barang dan besaran yang berbeda-beda. Barang mewah, tentu memiliki pengenaan bea yang lebih tinggi dibanding barang-barang untuk keperluan publik. Sementara untuk cukai, keberadaannya di masyarakat   tidak dapat dipisahkan dengan rokok.

Cukai dipahami sebagai pungutan tidak langsung, rokok tadi misalnya. Dikenakan cukai, sepertinya yang membayar perusahaan, tapi sebenarnya tidak, yang membayar adalah konsumen atau perokok. Di sinilah pemahamannya, dipungut pemerintah dari masyarakat atau konsumen melalui perusahaan penghasil produk yang dikenakan cukai tersebut.

Pengenaan cukai cukup khas, terhadap barang-barang yang memiliki karakter tertentu yang dideskripsikan tersendiri. Hal ini bertujuan untuk mengurangi peredaran barang-barang tersebut dalam masyarakat karena dianggap kurang bermanfaat bagi masyarakat. Sejarah mencatat bahwa di akhir pemerintahan kolonial dan di awal-awal berdirinya republik ini, gula adalah barang yang tercatat pernah terkena cukai. Saat ini cukai hanya diperuntukkan bagi rokok, rokok elektronik, dan alkohol.

Yang menarik, berdasar Perpres No 104 Tahun 2021 tentang Rincian APBN Tahun Anggaran 2022 pemerintah memasang target penerimaan cukai gula atau cukai atas minuman berpemanis sebesar Rp 1.5 triliun. Artinya peluang pengenaan cukai atas gula ini sangat mungkin terealisasi. Keberatan sudah pasti ada, para pelaku usaha dalam gabungan atau asosiasi ini tentu memiliki pandangan yang berbeda.

Bukan salah gula kalau akhirnya terlahir manis yang pada akhirnya berimplikasi disukai banyak masyarakat melalui kreasi produknya, dalam berbagai makanan dan minuman berpemanis. Fakta yang demikian menciptakan konsumsi masyarakat atas makanan dan minuman berpemanis sangat tinggi. Kekhawatiran munculnya beragam dan berbagai penyakit dalam masyarakat karena pemanis inilah yang coba dihadang oleh pemerintah.

Sesuai konsep dasar pengenaan cukai yaitu untuk mengurangi peredaran barang dalam masyarakat yang ditenggarai lebih banyak menciptakan mudharat,  sepertinya akan lebih cantik jika targetnya tidak berfokus pada pemerimaan saja. Dengan penerbitan perpres ini (104/2021) diharapkan terjadi penurunan angkat penderita penyakit gula sebesar 25%.

Peredaran barang berkurang, masyarakat sehat, target terpenuhi. Bagaimana jika dibunyikan seperti itu? Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

 

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 2,138 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Qatar 2022, Ojo Dibanding-bandingke

28 November 2022 - 07:10 WIB

Luar Biasa, Kunjungan Gubernur Khofifah ke Mesir Bawa Pulang Kontrak Ekspor Kopi dan Kertas Jatim Bernilai 11 Juta USD

24 November 2022 - 11:22 WIB

Wujudkan Dunia Kerja Jatim yang Inklusif dengan Memberi Ruang Bagi Penyandang Disabilitas, Gubernur Khofifah Terima Penghargaan dari Kemenaker RI

21 November 2022 - 18:34 WIB

Terima Sertifikat Penetapan KEK Singhasari, Plt Gubernur Emil Optimis Tumbuhnya Ekosistem Digital di Jatim

21 November 2022 - 18:29 WIB

UK Petra Ulas Peran Akuntan dalam Wujudkan Sustainable Development Goals 2030

19 November 2022 - 18:16 WIB

Hari Ini Menpora Bertemu PT LIB, Bahas Kelanjutan Liga?

18 November 2022 - 13:05 WIB

Trending di Kempalanbis