SURABAYA-KEMPALAN: Madat Club dan Departemen Politik, Pemerintahan, dan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya mengadakan bedah buku “Asia Tenggara” bersama pakar Asia Tenggara dari Universitas Sydney, Profesor Adrian Vickers dan Aswin Ariyanto Azis, Dosen FISIP UB.
Prof. Vickers membuka diskusi dengan menjelaskan tentang politik kontemporer di Thailand, terutama dari pihak militer di bawah Perdana Menteri Prayut yang sudah memiliki kuasa di bidang ekonomi.
“Walaupun pemerintahan di Asia Tenggara terlihat sama, namun juga ada perbedaannya,” ujar Vickers seraya menambahkan bahwa ada hubungan di antara pemerintahan-pemerintahan itu, ada hubungan pembentukan negara dan perkembangan kapitalisme di setiap negara.
Ia menuturkan bahwa buku tersebut merupakan penelitian pertama yang merupakan integratif untuk menjelaskan pola pokok politik dan sejarah.
“Dia sepertinya mengambil tema penting yang bisa menghubungkan tiap negara. Titik tolaknya adalah kolonialisme,” tambah Profesor Kajian Asia Tenggara itu. Ia menyebutkan, walaupun Thailand tidak dijajah oleh negara Eropa namun ada pemikiran yang berkaitan dengan pemikiran lain. Ada sejarah intelektual tentang perkembangan republikanisme dan liberalisme, salah satunya adalah pengaruh Freemason.
Ia juga memperlihatkan persamaan buku Sidel dengan karya Jim Harper yang memperlihatkan radikalisme Asia Tenggara.
Vickers juga mengutarakan bahwa walaupun komunisme seringkali dipertentangkan dengan agama, namun di Asia Tenggara keduanya bisa berjalan bersama. Sementara itu tema pokok lain dalam buku ini, menurut Vickers menekankan pada state-formation.

Ketika menjelaskan tentang kapitalisme, Sidel tidak menggunakan istilah tersebut, alih-alih memakai istilah akumulasi primitif, di mana di Asia Tenggara, kapitalisme bukanlah yang nyata melainkan ersatz capitalism (kapitalisme semu). Dalam membicarakan hal ini, menurut Vickers, Sidel juga menghubungkan orang keturunan Tionghoa, bahwa sumber kapitalisme tidak punya akar betul di kawasan itu.
Semua hal yang diulas Sidel berasal dari paradigma yang berkembang di tahun 60an, 70an, dan 80an. Di Asia Tenggara, paradigma ini erat dengan Universitas Cornell, yang mana Sidel adalah alumninya dan terpengaruh oleh Benedict Anderson.
Pria kelahiran Tamworth itu menuturkan juga bahwa Sidel tidak sekedar menggunakan teori para pakar itu, namun juga melakukan kritik terhadapnya ditambah dengan argumentasi dan sumber yang kuat, sesuatu yang ia anggap sangat persuasif. Akan tetapi, Vickers menyebutkan bahwa masih kurang teori yang berasal dari Asia Tenggara itu sendiri, seperti Inter-Asia Referencing.
“John Sidel lebih banyak membahas perbandingan politik, yang saya sarankan studi Asia Tenggara untuk perbandingan politik dan pemerintahan Asia Tenggara,” tutur Aswin Ariyanto Azis, Dosen Universitas Brawijaya.
Menurut Aswin, Sidel menawarkan banyak alternatif pemikiran, salah satunya nasionalisme anti-imperialisme yang tidak semuanya sama, di mana ada perbedaan antara nasionalisme Asia Tenggara kepulauan dan daratan.
“Pemikiran John Sidel memiliki kesamaan dengan World System Theory milik Immanuel Wallerstein,” tambahnya. Adapun Sidel juga mengadopsi secara halus pemikiran Teori Dependensi. Dosen UB itu mengapresiasi keberanian Sidel untuk mengkritik teori-teori yang sudah mapan, salah satunya teorinya Geertz. (Reza Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi