Senin, 22 Juni 2026, pukul : 03:19 WIB
Surabaya
--°C

Menuju Televisi Digital; Selamat Tinggal Talk Show yang Sumbernya Itu-Itu Saja

Perkembangan selanjutnya, tidak hanya mengkonsumsi,
warganet pun memproduksi informasi yang melalui risetnya, disukai publik luas. Memanfatkan momentum masyarakat yang mulai membelakangi layar kaca. Mereka sering menangkap basah ada pemilintiran substansi berita. Wartawan malas atau kurang waktu mengidentifikasi duduk perkara suatu peristiwa sebelum menyiarkan suatu berita. Mereka hanya asyik meliput sumber bicara menghabiskan durasi.

Lewat gadgetnya warga net 24 jam berselancar di dunia maya. Sekalian meninggalkan kultur menonton televisi. Yaitu menonton TV bersama- sama di satu tempat dan waktu tertentu yang diatur bagian programming. Secara kualitatif terhadap produk pers, sekali lagi mereka fokus pada substansi.

Selamat tinggal talkshow yang sumbernya itu-itu saja. Yang selalu bertengkar dah bikin gaduh bahkan urusan remeh temeh. Ada yang menyadari pertengkaran malah menjadi selling point bagi satu media untuk mengejar rating. Maka, yang tampil pun yang kuat bertengkar saja. Kuat mencaci. Atau saling caci. Ini jelas mengabaikan etika pers dan karena abai memperhatikan kompetensi sumber berita.

BACA JUGA  M.H. Thamrin: Di Atas Mimbar Volksraad di Bawah Langit Kemerdekaan

Belakangan berita kriminal perkotaan yang menjadi domain Harian Pos Kota zaman dulu, kini jadi menu TV sehari-hari. Menghabiskan durasi berjam- jam. Kita tahu itu maksudnya membidik segmen penonton masyarakat bawah yang masih setia menonton TV.

Untuk ditonton sekeluarga,
berita kriminal seperti itu, disajikan dalam siaran digital pun sulit dipakai untuk mengajak segmentasi masyarakat menengah untuk berpaling. Artinya, program TV digital tidak terlalu penting. Yang penting ketika berbicara masa depan pers adalah hasil kerja wartawan yang sepenuhnya mematuhi kode etik jurnalistik. Yaitu berita akurat, objektif berimbang, jujur dan terpercaya. Itu mahkota pers yang masyarakat selalu tagih dari wartawan platform apapun.

3. Data terakhir, 200 juta orang Indonesia telah terhubung dengan internet (secara global 4.46 miliar). Itu mengkonfirmasi telah terjadi disrupsi, goyahnya posisi media televisi.

BACA JUGA  ‘Data Center’, Air, dan Pelajaran dari Konflik ‘Google’ di Iowa

Secara kuantitatif, jumlah pengguna internet di Tanah Air saja lebih banyak dari pemilih Pemilu 2019. Atau lebih kurang 80% penduduk Indonesia. Jauh di atas 60 juta pemirsa yang diperebutkan media-media televisi konvensional. Lokal maupun Nasional.

Fenomena di media sosial semakin menggairahkan setelah melahirkan milyuner-milyuner, seperti Deddy Corbouzier, Raffi Ahmad, Atta Halilintar, Ria Richis, Baim Wong, yang jika diakumulasi subscriber mereka total menguasai hampir 100 juta pengguna internet. Melebihi akumulasi jumlah gabungan penonton seluruh stasiun televisi dan pembaca media cetak maupun online. Meskipun perolehan kue iklan Rp 168 triliun masih didominasi televisi, fenomena media sosial itu jelas merupakan ancaman serius yang menuntut perubahan mendasar insan pers dan televisi. Saya sudah berkali kali dalam tulisan mengingatkan kawan wartawan segera berubah, berbenah, mengkaji ulang politik pemberitaanya, gencar berinovasi, kalau tak mau tinggal nama.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.