PEKANBARU–KEMPALAN: Ketua Partai Ummat Riau Fauzi Kadir mendukung Anies Baswedan sebagai calon presiden. Untuk calon wakil presiden yang akan menjadi pendampingnya, dia menjagokan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
“Bagus itu. Secara individu Khofifah itu memang, daripada calon-calon yang ada, masih lumayan dia. Komitmen kebangsaan dan kegamaannya bagus. Dia punya visi,” ujarnya saat dihubungi, Selasa, 2 Agustus 2022.
Belum lagi, menurutnya, Khofifah menjadi perwakilan perempuan dan Nadhlatul Ulama, organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Mengingat Khofifah merupakan Ketua Umum PP Muslimat NU. Karena itu duet ini berpotensi besar untuk menang di Pilpres 2024 nanti.
“Anies sudah kan sudah kuat. Sementara NU kuat di Jawa Timur, Jawa Barat juga, dan sebagian Jawa Tengah. Jelas menanglah. Tinggal cara mengemasnya saja. Bisa enggak potensi Khofifah itu dieksploitir menjadi kekuatan besar perubahan. Dia bisalah bangun visi itu,” ungkapnya.
Dia pun menampik anggapan Anies dan Khofifah tidak akan bisa berpasangan karena berasal dari kultural yang berbeda. Anies berasal dari kelompok modernis, sementara Khofifah dari kelompok tradisionalis.
“Itu karena orang melihat secara kultural dan dari perspektif teori sosial Barat. Mereka hanya melihat warna. Padahal ini merupakan kekayaan khazanah umat Islam,” bebernya.
“Ketika kena musibah, saya banyak berdoa. Ketika melihat persoalan yang riil, saya berbicara secara rasional. Kan gitu. Itu kondisional. Begitulah cara ijtihad umat Islam,” sambungnya.
Namun, sayangnya, dikotomi tersebut terus digaungkan oleh mereka yang tidak ingin melihat umat Islam bersatu. Sehingga perbedaan secara kultural tersebut terus dipertajam selama bertahun-tahun.
“Padahal secara substansial tidak ada persoalan. Sama-sama shalat, sama-sama menegakkan keadilan, melawan kezaliman, memperjuangkan kesejahteraan. Itulah Islam. Jadi sebenarnya tidak ada persoalan lagi itu. Elite NU dan Muhammadiyah saja, akur-akur saja itu. Orang-orang yang tak paham saja yang mempertajam,” tegasnya.
Karena itulah, dia menegaskan lagi, tidak ada hambatan secara kultural Anies-Khofifah berpasangan. Apalagi keduanya selama ini juga sudah bekerja dan memperjuangkan misi universal keislaman tersebut, seperti keadilan, kesejahteraan, dan melawan kezaliman.
Sebegitu pentingnya Khofifah bekerja sama dengan Anies, dia menambahkan, Gubernur Jawa Timur tersebut harus tetap membantu Anies kalau jadi Anies Presiden sementara Khofifah tidak jadi wakil. Khofifah harus masuk ke dalam kabinet.
“Kalau (Khofifah) jadi wakil, syukur. Tapi kalau tidak, (Khofifah) tetap harus bisa menjadi kekuatan bersama. Sebab (masa depan) umat ini bukan tanggung jawab Anies saja,” tandasnya. (kba)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi