Senin, 20 April 2026, pukul : 07:39 WIB
Surabaya
--°C

Islam Tengah atau Islam Kaffah?

Untuk menyempurnakan propaganda sesatnya, pengasong Islam moderat selalu melakukan stigmatisasi terhadap ide syariah dan khilafah dengan mengidentikkan sebagai sumber anarkisme dan berperan menyulut konflik horisontal. Mereka berkoar tanpa paham tentang bahaya ideologi transnasional yang ditujukan kepada Islam dan syariahnya. Padahal mereka sendiri sedang memuja ideologi rusak transnasional yakni demokrasi, kapitalisme, sekularisme. Tanpa sadar, merekalah yang telah membudak kepada ideologi sesat transnasional sekularisme. Tak tanggung-tanggung, banyak lembaga yang mendapat kucuran dana transnasional untuk proyek destruktif ini.

Tuduhan kaum moderat atas Islam radikal hanyalah pengulangan sejarah semata. Padahal pada hakikatnya, kaum moderat yang makan dari kaum kafir telah terjebak pada politik adu domba sesama muslim. Namun, mereka tak juga mau sadar, sudah terlalu kenyang makan haram. Meski sepanjang sejarah, kesempurnaan Islam selalu mendapat tuduhan keji karena kebencian dan dendam sejarah. Bahkan Barat yang tidak suka dengan Islam menginginkan keterpecahan kaum muslimin dengan strategi adu domba. Barat menginginkan polarisasi muslim dengan memberikan label dan kapling-kapling Islam sehingga menimbulkan berbagai friksi intelektual hingga fisik sesama muslim yang cenderung destruktif.  Akibatnya kini kaum muslim mengalami perpecahan dan bahkan hingga permusuhan.

Konstruksi epistemologi  Barat didasarkan oleh aliran pemikiran sekularistik, liberalistik, pluralistik, skeptisistik, ateisitik, permisifistik, relatifistik dengan tujuan dekonstruksi epistemologi Islam. Istilah Islam radikal adalah bagian dari ghozwul fikr  yang bermuara kepada imperialisme epistemologi. Hasilnya umat Islam menjadi ragu kepada agamanya sendiri karena telah terjadi sinkretisme, pelarutan dan pembaratan ajaran Islam

Secara historis, serangan epistemologi Barat terhadap Islam memiliki tujuan utama untuk melumpuhkan ajaran Islam dan memecah belah kaum muslimin di seluruh dunia, melalui gerakan misionaris dan orientalisme. Gerakan misionaris dan orientalisme berperan besar dalam pola dekonstruksi  ajaran Islam melalui apa yang disebut sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah inilah pula yang telah menipu dan menyeret kaum intelektual muslim hingga mereka merasa bangga dengan pendekatan baru studi Islam kontemporer ini. Inilah cikal bakal lahirnya kaum liberal di dunia Islam.

Tokoh utama pengusung hermeneutika di dunia Islam adalah Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir) yang telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, juga Arkoun dari Afrika Utara yang kini di Eropa, serta Fazlur Rahman yang harus hengkang dari Pakistan ke Chicago Amerika. Kini para penerus mereka bertebaran di Indonesia dan bermarkas di berbagai perguruan tinggi Islam.

Setidaknya ada empat karakteristik dan tujuan Barat  melancarkan imperialisme epistemologi sebagai propaganda Barat menyerang Islam, Pertama, Harakah At Tasykik yakni menumbuhkan keraguan (skeptis) pada umat Islam akan kebenaran Islam. Di antara keraguan yang mereka lancarkan adalah gugatan tentang autentisitas Al Qur’an, Islam sebagai Mohammadanisme, keraguan atas kerasulan Muhammad. Dampak dari at tasykik adalah tumbuhnya sikap netralitas dan relativitas terhadap ajaran Islam. Jika masih ada seorang muslim yang secara fanatik memahami Islam maka mereka kemudian dicap sebagai fundamentalis, radikalis, Islamis dan teroris.

Kedua, Harakah At Tasywih, yaitu menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara memberikan stigma buruk terhadap Islam. Mereka dengan gencar mencitrakan Islam secara keji melalui media-media. Islam dipresentasikan sebagai agama yang antagonistik terhadap ide-ide kebebasan, HAM, demokrasi, pluralisme dan nilai-nilai Barat lainnya. Dampak dari tasywih ini adalah menggejalanya inferiority complex (rendah diri) pada diri umat Islam, islamopobhia, pemujaan  kepada Barat.

Ketiga, Harakah At Tadzwib, yakni gerakan pelarutan (akulturasi) peradaban dan pemikiran.  Dampaknya adalah terjebaknya umat Islam dalam pemikiran pluralisme agama. Pluralisme jelas bertentangan dengan Islam. Sebab pluralisme menurut WC Smith bermakna transcendent unity of religion (wihdat al adyan), dan global teologi menurut John Hick.

Keempat, Hakarah At Taghrib yakni gerakan westernisasi segala aspek kehidupan kaum muslimin. Paradigma Barat dijadikan sebagai kiblat kaum muslimin dengan meninggalkan tsaqafah Islam. Melalui berbagai bidang seperti fun, fashion, film, dan food, Barat terus mempropagandakan ideologinya.

Wahai kaum muslimin, ingatlah bahwa kedengkian kaum kafir akan terus berlangsung hingga kiamat datang. Sebagaimana dahulu, mereka kini juga menggunakan kaum munafik pemuja dunia untuk menjadi corong-corongnya. Tetaplah cerdas dan waspada, jangan sampai terjebak kepada kedunguan mereka. Tetaplah berpegang teguh kepada Islam yang sesungguhnya, yakni Islam kaffah yang sempurna, tanpa embel-embel. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.