Konten yang sifatnya personal bisa setiap detik menjadi konsumsi publik dan bersifat politis. Apa yang disuka, dikagumi, diyakini itulah yang diunggah dan disebarluaskan. Semuanya ada di ujung jari, semuanya bisa dioperasikan dengan satu klik saja.
Eksistensi manusia adalah eksistensi klik. Aku Klik Maka Aku Ada, kata F. Budi Hardiman dalam bukunya Manusia dan Revolusi Digital. Dengan klik itu manusia bisa menikmati kebebasan luas di alam digital yang tanpa batas.
Kebebasan untuk mengunggah dan menyebarkan konten itu terkait dengan identitas individu yang begitu fleksibel di media digital. Pengguna media sosial bisa memilih menggunakan identitas riil, identitas palsu bahkan anonim. Tidak ada kegelisahan yang mengusik karena tidak perlu bertatap muka seperti saat berkomunikasi langsung dengan orang lain.
Pengguna terbiasa abai pada etika komunikasi yang berlaku. Persoalan menjadi semakin pelik ketika yang mengalami kegagapan bukan sebatas masyarakat pengguna media digital, pemerintah selaku regulator pun memiliki kegagapannya sendiri. Regulasi yang mengatur tata kelola media digital belum efektif mengatasi persoalan-persoalan mendesak seperti penanganan hoaks dan ujaran kebencian.
Manusia digital bergantung pada gajet sebagai alat teknologi. Gajet yang seharusnya menjadi alat sudah berubah menjadi gajet yang memperalat manusia. Keduanya tidak bisa lagi dibedakan, karena hubungannya yang begitu erat dan tidak bisa dipisahkan.
Ketika tidak membuka gajet dalam jangka waktu beberapa menit maka ia akan merasa sebagai manusia yang kehilangan eksistensi di dunia ini. Keberadaan manusia saat ini dilihat dan diukur dari keaktifannya dalam dunia digital.
Dalam keadaan apapun, gajet ada di genggamannya, dalam suka dan duka hal pertama yang dilakukan adalah klik untuk mengunggah dan mengunduh. Ketika hendak makan hal utama yang dilakukan bukan berdoa tapi klik untuk posting. Ketika shalat tahajud pun tidak lupa klik dan posting kepada semua teman di dunia digital.
Dalam gajetnya manusia digital mampu membawa ratusan bahkan ribuan buku untuk dijadikan bahan konsumsi bacaan. Ditambah lagi dengan komunikasi yang dilakukan sesama homo sapiens, yang perlahan beralih kepada komunikasi digital yang sangat intens.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi