Inilah saatnya mengucapkan “selamat tinggal kepada komunikasi konvensional dan selamat datang di revolusi digital”. Di sinilah perang-perang dilakukan secara online, menghujat secara online, mencaci, memaki orang lain tidak harus bertemu fisik dengan orang tersebut.
Fenomena yang terjadi dalam revolusi digital, telah banyak mengubah manusia. Realitas tentang dirinya, pemaknaan baik dan buruk, semua berubah. Manusia tidak lagi memikirkan sebuah kebenaran yang hakiki, melainkan kebenaran yang bersifat sementara.
Terjadinya revolusi digital dari homo sapiens menuju homo digitalis telah mengubah pola pikir dan eksistensi manusia. Kita semakin sulit membedakan antara realitas yang asli dan fiksi. Kita berinteraksi dan berkomunikasi tanpa harus menghadirkan tubuh.
Kebenaran atau truth menjadi hal yang sangat samar di dunia digital. Era digital disebut sebagai era-post truth, pasca-kebenaran. Kebohongan bukan lagi kebohongan, tetapi sudah menjadi post-truth, pasca-kebenaran. Manusia digital hanya ingin mendengarkan apa yang dia ingin dengar. Manusia digital tidak membutuhkan verifikasi atau klarifikasi. Ia hanya membutuhkan konfirmasi untuk meyakinkan keyakinannya.
Informasi semakin berlimpah, tetapi semakin banyak yang menjadi sampah. Peristiwa Desa Wadas menimbulkan gelombang informasi yang bergulung-gulung, yang membuat publik semakin tergulung tanpa bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Akhirnya publik membaca dan mendengarkan apa yang ingin ia baca dan dengarkan.
Manusia digital berkuasa atas apa yang ia inginkan. Dengan sekali klik, dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dan dengan sekali klik dia menyingkirkan apa yang tidak dia inginkan.
Itulah eksistensi manusia modern sekarang ini. Aku klik maka aku ada. Manusia digital sekarang adalah ‘’Manusia Jari-Jari’’. Kita harus membayar royalti kepada keluarga almarhum Pepeng untuk istilah itu. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi