Selasa, 26 Mei 2026, pukul : 18:22 WIB
Surabaya
--°C

Mengungkap Kisah Lee Man Fong Dalam “Bison Padang Sunyi”, Melacak Jejak Sang Maestro di Balik Layar

Buku ini mengingatkan kembali, bahwa di balik kebisuan dan kesederhanaan, seringkali tersimpan kekuatan, kejeniusan, dan juga pengabdian terbesar bagi peradaban seni dan budaya bangsa. 

Oleh: Hamid Nabhan

KEMPALAN: Menulis biografi seorang tokoh besar selalu memiliki tantangan tersendiri. Namun tantangan itu semakin sulit ketika sosok yang ditulis adalah pribadi yang sedemikian rendah hati, tertutup, dan justru berusaha untuk menutup diri dari sorotan publik sepanjang hidupnya. 

Buku Lee Man Fong “Bison Padang Sunyi” Karya Agus Dermawan T. hadir sebagai jawaban atas kebisuan itu, sekaligus bukti ketekunan yang luar biasa seorang penulis yang merangkai serpihan sejarah yang nyaris hilang ditelan waktu.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup karya Lee Man Fong, seniman raksasa dalam sejarah seni rupa Indonesia yang nyaris terlupakan. Bukan karena jejaknya tiada, melainkan karena ia sendiri memilih bekerja serta berkarya dari balik layar. 

Sebagaimana diakui sang penulis, penyusunan buku ini merupakan yang tersulit dibandingkan dengan 64 karya buku sebelumnya. Tantangan utamanya adalah data dan catatan tentang Lee Man Fong sangat sulit ditemukan, terserak, dan banyak yang isinya telah terpotong dan hilang. 

Penulis bahkan harus menempuh jalan panjang hingga menelusuri dokumen seni rupa di perpustakaan China, Taiwan, dan Singapura demi menyatukan kepingan dokumen berharga ini.

Lee Man Fong dikenal sebagai seniman yang humble. Ia jarang mengumbar wacana maupun penjelasan mengenai gaya seni yang sesungguhnya jenial dan brilian. 

BACA JUGA  Menjaga Kemurnian Sunnah: Mengapa Sebagian Hadits Diterima dan Sebagian Ditolak ?

Ketika mendirikan kelompok seni Yin Hua pada 1955, justru nama-nama anggota yang ditonjolkan, sementara ia sendiri memilih bergerak dalam diam. 

Identitasnya sebagai keturunan Tionghoa membuatnya memilih sikap hati-hati dan menjaga jarak, seolah ingin membuktikan bahwa karya dan pengabdianlah yang utama, bukan nama atau kemasyhuran dirinya. 

Bahkan kliping resensi positif dari pamerannya di Belanda maupun Singapura pun tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun. Dokumen berharga itu baru berhasil dikumpulkan penulis setelah bisa wawancara mendalam dengan Le Rern, putra almarhum, di kediaman sederhana sang maestro di Jalan Gedong.

Padahal, jejak kebesarannya tercatat jelas dalam sejarah. Pada 1962, Lee Man Fong diangkat menjadi Pelukis Istana Presiden di masa pemerintahan Soekarno.  Meski memegang tanggung jawab setinggi dan sepopuler itu, kerendahan hatinya tak berubah. 

Ia justru melibatkan dan menyerahkan porsi besar pekerjaan tersebut kepada rekannya, Lim Wasim, sebagai wujud kebersamaan.

Perjalanan hidupnya penuh dengan pasang surut dan gelombang sejarah. Pasca peristiwa G.30.S/PKI, Lee Man Fong dituduh berpaham Sukarnois dan terpaksa melarikan diri ke Singapura.

Di negeri rantau, ia sangat dihormati dan diakui kualitas seninya, namun sikapnya tetap sama, yaitu diam dan menjaga diri. Ia pernah berkata, “Saya kan setengah pelarian. Jadi lebih baik diam.” 

Baru pada awal 1980-an ia kembali ke Jakarta, namun kerap “bersembunyi” dan banyak menghabiskan waktu di Puncak. Lee Man Fong menjadi sosok tertutup bukan tanpa alasan; latar belakang ras, posisi sosial, dan situasi politik masa itu memaksanya berjalan dalam sunyi.

BACA JUGA  Salah, Air Mata Raja Mesir

Ironisnya, ketika ia wafat pada 1988, penghormatan luas tak terlihat. Hanya satu koran, Kompas, yang memuat obituari panjang mengenang kepergian maestro ini. 

Di sisi lain, nama besarnya justru kerapkali disalahgunakan karena banyak lukisan palsu beredar atas namanya. Hal ini memaksa Agus Dermawan bekerja sangat teliti dan hati-hati saat menyeleksi karya asli untuk dimuat, termasuk sejumlah koleksi berharga yang tersimpan di Istana Presiden.

Buku setebal 298 halaman, Bison Padang Sunyi bukan sekadar kumpulan riwayat hidup, melainkan kisah petualangan yang seru, dinamis, dan penuh makna. 

Diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Mei 2026, karya ini sekaligus menjadi tonggak istimewa karena buku ke-65 dari Agus Darmawan T. ini terbit bertepatan dengan peringatan ulang tahun penulis yang ke-74 pada 29 April 2026 lalu.

Lewat ketekunan melacak jejak dari naskah tersembunyi, dokumen luar negeri, hingga percakapan dengan keluarga dekat, akhirnya kita dapat mengenal sosok besar ini seutuhnya.

Buku ini mengingatkan kembali, bahwa di balik kebisuan dan kesederhanaan, seringkali tersimpan kekuatan, kejeniusan, dan juga pengabdian terbesar bagi peradaban seni dan budaya bangsa. 

Sebuah karya dokumenter bernilai tinggi yang menebus kelalaian sejarah, layak menjadi rujukan siapa saja yang mencintai seni dan kebenaran sejarah Indonesia.

*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

 Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.