
Catatan Ekonomi Bambang Budiarto
KEMPALAN: Keith Kayamba Gumbs, bagi sebagian pecinta sepak bola tanah air tentu nama ini tidaklah asing. Bertinggi 178 cm tentu sangat ideal untuk posisinya sebagai tukang gedor jala lawan dan cukup mengerikan bagi penjaga gawang manapun. Sekarang ini Keith Kayamba Gumbs memang tidak lagi bermain di Liga Indonesia, pemain kelahiran Federasi Saint Kitts dan Nevis, sebuah negara terkecil di Amerika ini baru saja pensiun dari kariernya sebagai pemain bola.
Klub terakhir yang dibelanya adalah Southerm Ettalong United yang berkompetisi di Central Coat Men’s – Australia di 2019 lalu. Namun jangan salah dan jangan kaget, dengan usia 47 tahun, seorang Keith Kayamba Gumbs ternyata masih mampu menjebol 20 gol di sebuah liga profesional. Itulah dan begitulah Kayamba yang di usia 47 tahun masih mampu bersaing dengan para striker, gelandang, dan libero usia dua puluhan.
Dalam sebuah wawancara saat masih di Indonesia Kayamba membagikan rahasia kemampuan stamina dan lari kencangnya, tidak pernah makan makanan yang digoreng, semua direbus !!!.
Beda Kayamba beda pula Sin Tae-Yong, yang saat pertama kali datang ke Indonesia untuk melatih timnas langsung marah-marah begitu mengetahui masih ada pemain ber-label timnas tapi masih menyukai gorengan sebagai makanan ringan. Di luar kedua contoh tersebut tentu di antara kita cukup sering atau minimal pernah mendengar saran dari dokter, “hindari makan gorengan ya supaya segera pulih.”
Ya, minyak goreng sering divonis sebagai komoditi pembawa petaka kesehatan tubuh, namun tak dapat dipungkiri bahwa minyak goreng menjadi begitu dibutuhkan. Pas, satu bulan perjalanan bulan Januari di tahun 2022. Pas satu bulan ini juga harga minyak goreng melayang-layang di langit yang tinggi. Prediksi bahwa akan ada kemeriahan kenaikan harga minyak goreng ini sejatinya sudah diprediksi sejak akhir 2021 di saat pemerintah ancang-ancang untuk menghapus minyak curah.
Benar saja, minyak goreng yang sebelumnya berputar-putar di belasan ribu rupiah per liter, di Januari di beberapa wilayah harga minyak goreng tersenyum di angka tiga puluh ribuan per liter. Bersama-sama dengan rokok dan LPG non Subsidi yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan di awal tahun 2022, namun rokok dan LPG non Subsidi tidak ada jeritannya di masyarakat.
Kenaikan harga minyak goreng yang membabi buta di pasaran ini sungguh telah menciptakan kepanikan tersndiri di masyarakat. Jeritan di masyarakat akibat kenaikan harga ini ternyata coba diredam pemerintah melalui Kemendag dengan menerbitan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang diberlakukan per 1 Februari 2022, bahwa untuk Minyak Goreng Curah Rp 11.500,00, minyak goreng kemasan sederhana Rp 13.500,00 dan minyak goreng kemasan premium Rp 14.000,00.
Dengan sebuah warning, apabila masih ada yang menjual di atas ketentuan HET akan dikenai sanksi. Efektifkah? Seberapa besar kemampuan dan kekuatan ketentuan HET menahan laju kenaikan harga minyak goreng ini?
Kreasi yang sering juga dilakukan pemerintah untuk menekan harga adalah dengan ‘operasi pasar’. Untuk beberapa komoditi yang sangat dibutuhkan masyarakat, ‘operasi pasar’ boleh dikatakan berhasil. Mencermati situasi yang demikian tampaknya memang perlu energi lebih menangani laju kenaikan harga minyak goreng ini, dan rahasia atau tips dari Keith Kayamba Gumbs di atas patut dicoba.
Masyarakat harus mulai mencoba untuk menggeser pola konsumsi, dari sebelumnya ‘migor minded’ ke sedikit demi sedikit menggunakan minyak goreng dengan sangat sedikit. Ber-konsumsi tanpa minyak goreng minimal akan mendapatkan bonus kesehatan dan bonus daya beli, ‘move on’ dari minyak goreng.
Anggaran belanja minyak goreng tersimpan untuk pembelanjaan yang lain. Untuk sementara ‘subsidi’ sebagai salah satu instrumen penurunan harga di masyarakat disimpan dulu. Mencermati keseluruhan pemahaman tersebut, akhirnya melahirkan beberapa pertanyaan, dari manakah besaran angka-angka HET ditetapkan? Seberapa efektifkah kemampuan HET dalam menekan harga? Sejauh mana kemampuan pola konsumsi dalam men-stabilkan harga. Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi