Reza Maulana Hikam
Redaktur Kempalan
KEMPALAN: Kota Ithaca di Negara Bagian New York lekat dengan salah satu universitas Ivy League di Amerika Serikat, namanya Universitas Cornell. Kampus tersebut sangatlah berjasa memperkenalkan baik Asia Tenggara maupun Indonesia (bahkan ada proyek bernama Cornell Modern Indonesia Project/CMIP) kepada khalayak negeri Paman Sam.
Semua berawal dari seorang pemuda yang bertugas di dinas ketentaraan Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang berada di Indonesia, pemuda itu ialah George McTurnan Kahin yang kelak menjadi pakar Asia Tenggara juga seorang aktivis progresif yang menolak kebijakan luar negeri yang agresif dari AS di Vietnam.
George sendiri sempat ditahan dan dikeluarkan dari Indonesia oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena aktivitas politisnya. Ia adalah orang Amerika yang memperkenalkan perjuangan bangsa Indonesia kepada penduduk AS. Salah satu anekdot menarik yang tertera di Tirto.id ialah ketika Kahin menuju Yogyakarta, ia sempat dikepung di Kebumen, namun selamat karena memekikkan “Merdeka!”
Misinya di Indonesia menghasilkan tulisan-tulisan yang membuka mata khalayak Amerika Serikat terhadap perjuangan Republik Indonesia menghadapi upaya kolonialisasi kembali Belanda.
Salah satu jurnal awal Kahin yang menuliskan tentang Indonesia terbit di Far Eastern Survey dengan judul The New Indonesian Government yang menjelaskan tentang kondisi pemerintahan Indonesia di lapangan, baik pada masa Sutan Syahrir maupun Mohammad Natsir. Sang profesor emeritus dari Universitas Cornell itu juga terkenal dengan istilah “sosialis Islam” dalam menggambarkan kubu Natsir di Masyumi.
Melansir Indonesia.go.id, Kahin mendapatkan pendidikan nomor wahid di AS, mulai dari sarjana yang ia tempuh di Universitas Harvard pada bidang sejarah, lanjut berkuliah di jurusan antropologi pada Universitas Stanford hingga menyelesaikan doktoralnya di Universitas John Hopkins. Ketika mencapai gelar doktor, ia pun bergabung dengan Departemen Pemerintahan Universitas Cornell.
Menurut Daniel Lev, salah satu mahasiswanya yang mengajar di Universitas Washington, Kahin adalah orang yang mendirikan Program Asia Tenggara di universitas bergengsi itu. Dari program tersebut, lahirlah banyak akademisi yang nantinya menjadi pakar, baik dalam kajian Indonesia maupun Asia Tenggara.
George menikah dengan Audrey Kahin, perempuan asal Inggris yang pindah ke Amerika Serikat. Audrey pernah menjadi penyunting dari CMIP dan juga Program Asia Tenggara di Universitas Cornell semenjak 1979-1995. Ia menulis buku berjudul Subversi Sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia bersama suaminya. Dalam buku itu, George dan Audrey menelisik bagaimana CIA diam-diam mendukung PRRI/Permesta, bahkan berseberangan dengan kebijakan kedubes AS di Indonesia. Semuanya tidak terlepas dari Dulles bersaudara.
Kahin di Mata Mahasiswa
“Orangnya kalem, hormat kepada kami mahasiswa, tapi bisa tajam kalau mengritik,” ujar Dede Oetomo, Staf Pengajar S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga ketika mengingat pertemuannya dengan Kahin ketika ia berkuliah di Universitas Cornell.
Selain itu, John Sidel dari London School of Economics yang juga alumni Universitas Cornell turut memberikan pandangannya mengenai mendiang George Kahin kepada Kempalan.
“Saya dapat dengan pasti mengatakan bahwa dia adalah sosok Bapak yang sangat baik dan murah hati, seorang pria dengan integritas pribadi dan keberanian politik yang nyata, dan seorang tokoh perintis dalam Studi Asia Tenggara yang merupakan kekuatan pendorong di balik pendirian dan perkembangan Program Asia Tenggara Universitas Cornell,” kenangnya ketika memberikan surel balasan.
Namun, Sidel mengatakan bahwa ketika ia masuk untuk belajar di Cornell, Kahin baru saja pensiun dan hanya merasakan diajar olehnya ketika mengunjungi universitas itu setahun sebelumnya. “Tapi dia tetap di Ithaca dan merupakan tuan rumah dan mentor yang sangat murah hati dan sosok ayah bagi saya dan banyak siswa lainnya pada saat itu,” tambah penulis buku Asia Tenggara dalam Sorotan.
Sementara itu, Abdullah Dahana yang pernah menempuh S2 Sejarah Tiongkok di Universitas Cornell pada tahun 1972-1974, mengatakan dirinya pernah menemui Ben Anderson maupun George Kahin, terutama ketika 102 West Avenue (lokasi CMIP) mengadakan acara.
“… kesan saya tentang Pak Kahin, dia itu sangat merendah, tidak sok tahu tentang Indonesia,” tutur penulis buku Perang Dingin, Tiongkok, Malaya, dan Malaysia: 1949-1974 ketika mengenang pertemuannya dengan mendiang George Kahin.
Kahin yang Terbuka dan Progresif
Kahin juga merupakan intelektual progresif ala Amerika yang selalu terbuka dengan berbagai kelompok, termasuk kelompok Islam di Indonesia. Dua tokoh Islam yang kenal dengan Kahin ialah Deliar Noer dan Mohammad Natsir. Hal ini disampaikan oleh Audrey Kahin dalam obituarinya untuk Deliar Noer pada 2008 silam di jurnal Indonesia.
Di sana ia menuliskan, suaminya pertama kali bertemu Noer di rumah Natsir tahun 1955 ketika Kahin sedang mempersiapkan Cornell Modern Indonesia Project yang berada di bawah naungan Ford Foundation. Baik Natsir maupun Hatta menyarankan Noer dan Kahin pun menemuinya dan terkesima dengan pengetahuan Deliar, sehingga ia menunjuknya sebagai direktur lapangan dari proyek penelitian “Development and Role of Modernist Islamic Thought in Indonesia.”
Selain terbuka dengan berbagai pihak, Kahin terkenal sebagai kritikus Perang Vietnam. Ia menolak keterlibatan negaranya dalam peperangan tersebut dan mengatakan bahwa Vietnam adalah satu bangsa, bukan dua, di mana Vietnam Selatan adalah bentukan mereka yang tergantung dengan kekuatan Amerika Serikat.
Pria kelahiran 25 Januari 1918 itu menghasilkan banyak intelektual, baik dari luar negeri maupun dari Indonesia yang menghasilkan karya-karya penting yang menjadi pembuka Kajian Indonesia di negeri Paman Sam itu. Kahin pun memiliki sejumlah karya yang patut menjadi rujukan ketika seseorang ingin mempelajari politik di Indonesia.
Kahin dan Karya-karyanya
Selain buku yang ia tulis bersama Audrey, Profesor Emeritus Kajian Internasional itu juga menulis buku legendarisnya yang menjadi rujukan awal kajian politik di Indonesia, yakni Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Buku itu adalah karya pertama yang membuka kajian politik mengenai Indonesia, terutama di masa perjuangan menuju, memproklamirkan dan mempertahankan kemerdekaan, yang mana Kahin adalah seorang saksi mata.
Dalam magnum opus-nya itu, Kahin mengulik situasi politik Indonesia semenjak Sistem Tanam Paksa dan Politik Etis dengan mewawancarai atau berhubungan dengan sejumlah tokoh nasional Indonesia, seperti Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Mgr. Soegijapranata, Sukarno, Mohammad Hatta, dan masih banyak lagi seperti yang disebutkan olehnya di bagian Ucapan Terima Kasih.
Karya Kahin itu selalu menjadi rujukan untuk melihat bagaimana kondisi pemerintah Indonesia pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, karena berisikan data-data lapangan, karena Kahin adalah saksi hidup yang melihat bagaimana Indonesia berupaya mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.
Ia juga menulis The United States in Vietnam (bersama John Lewis), salah satu buku yang sangat berpengaruh membuat pandangan para akademisi AS melawan kebijakan intervensi negaranya di Vietnam dan sampai sekarang tetap menjadi rujukan penting terkait Perang Vietnam.
Sang pendiri CMIP juga menuliskan sebuah memoar berjudul Southeast Asia: A Testament. Beberapa karyanya yang lain ialah The Political Position of the Chinese in Indonesia, Intervention: How America Became Involved in Vietnam, sejumlah tulisannya termaktub dalam Major Governments of Asia dan Government and Politics of Southeast Asia.
George McTurnan Kahin wafat di Strong Memorial Hospotal di New York pada 29 Januari 2000, tepat hari ini, 22 tahun yang lalu. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi