Minggu, 5 Juli 2026, pukul : 15:34 WIB
Surabaya
--°C

Lucunya Kiri Indonesia, Rumit dan Sukar Dipahami, Reaksioner Pula

Selain masalah pola bicara, ternyata juga seringkali hanya berisikan wacana, wacana, dan wacana saja. Jika kita membuka lembaran sejarah, kita akan menemukan yang namanya “Partai Komunis Indonesia” (biasa disingkat PKI, tapi bebas mau disingkat seperti apapun untuk menghindari sensor) yang diklaim dan dituding serta dianggap “kiri”.

PKI ini punya banyak kawan, mulai dari Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan banyak kamerad lainnya. Namun yang menarik adalah keberadaan sejumlah perguruan tinggi yang juga dekat dengan mereka.

Seperti Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Universitas Res Publica, Universitas Rakyat, Akademi Djurnalistik Dr. Rivai, Akademi Sastra Multatuli dan sejumlah lainnya. Kedekatan ini memperlihatkan bagaimana gerakan kelompok kiri akan lebih tertata apabila mereka terkonsentrasi pada partai atau organisasi tertentu.

Sekarang PKI sudah tiada. Habis terlibas usai G30S (biasanya ditambah PKI di bagian belakangnya). PKI bahkan menjadi partai terlarang, dibenci, dihujat, dimusuhi, dan menjadi noda dalam sejarah Indonesia. Tapi setidaknya mereka punya rencana ke depan selama berdiri, terorganisir, dan terkoodinir, sementara kelompok kiri sekarang? Banyak berwacana saja.

BACA JUGA  Sjahrir, Di Antara Sunyi Sejarah Dan Gemuruh Bangsa

Saya tidak mengadvokasi, meminta atau mendorong pendirian PKI kembali, hanya menjadikannya contoh berkaitan dengan bagaimana kiri itu akan lebih berarti apabila ada payung organisasinya. Mereka akan menjadi kekuatan yang memang bisa membawa perubahan nyata, tidak hanya “turut senang” dengan kemenangan Gabriel Boric di Cile atau Olaf Scholz di Jerman serta menelaah peluang menang Bernie Sanders dan Jeremy Corbyn. Ini orang kiri malah ngomongin luar negeri.

Ada kemungkinan juga mereka jatuh pada pemujaan terhadap tokoh, aktivis, pakar, maupun teoritikus Kiri sendiri. Pemujaan semacam ini sejatinya adalah pengkhianatan terhadap kiri itu sendiri, yang menurut John Patrick Diggins dalam bukunya The Rise and Fall of the American Left adalah mereka yang ingin mengubah tatanan yang ada. Maka dari itu, orang Kiri seharusnya kritis terhadap kiri itu sendiri dan selalu berusaha memperbarui teori kiri.

BACA JUGA  Jokowi, Puncak Kegagalan Pilpres Langsung Produk UUD 2002

Namun, menjadi kritis tak harus mengklaim diri sebagai Kiri. Ketika saya membaca karya John Sidel berjudul “Republicanism, Communism, and Islam”, ia mendedikasikan buku itu pada mendiang Benedict Anderson, yang dia kritik teorinya dalam buku tersebut. Inilah dinamika pemikiran yang seharusnya ada dalam seorang Kiri. Sidel memang tak mengklaim dirinya orang kiri, tapi bagaimana ia bisa kritis terhadap teori gurunya mencerminkan ke-kiri-an yang nampaknya tererosi dengan parah di Indonesia.

Terakhir, biasanya mereka itu nyinyir juga dan suka menghakimi orang ramai-ramai, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Masalah ini, saya tak perlu menjelaskan panjang lebar, bisa dicek langsung di segala platform media sosial “kapitalis” yang dipakai para Kiri itu. Terkadang pula mereka reaksioner.

Saya tak membenci kiri, hanya jengkel dengannya. Kira-kira apa yang dirasakan Kakek Marx dan Kakek Lenin ketika melihat cucu ideologisnya hanya bisa komedi omong. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.