Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 13 Jan 2022 17:48 WIB ·

Lucunya Kiri Indonesia, Rumit dan Sukar Dipahami, Reaksioner Pula


					Patung Lenin. (Unsplash) Perbesar

Patung Lenin. (Unsplash)

Reza Maulana Hikam

Redaktur Kempalan

KEMPALAN: Harus saya peringatkan terlebih dahulu bagi para pembaca yang punya ketertarikan, kecenderungan, kecintaan maupun pemujaan terhadap pemikiran “Kiri” untuk tidak memasukkan tulisan ini ke dalam hatinya terlalu dalam, karena mungkin beberapa perkataan akan berbatasan dengan penghinaan dan patut diingat juga, bagian ini adalah opini, yang tidak serta merta menggambarkan ideologi atau pemahaman apa yang dianut oleh kantor berita yang menerbitkannya.

Catatan pendek ini saya buat setelah muak dengan Kiri bersama para pemikirnya yang suka menggunakan istilah ndakik (atau melangit, kadangkala disebut menara gading) yang susah dipahami.

Kalau kita mendengar orang kiri nyocot (baca: berbicara), pasti kita akan mendengar kosakata atau istilah yang sukar dicerna, misalkan: eksploitasi, apropriasi, akumulasi, sirkulasi, basis, infrastruktur, suprastruktur, fetisisme, genealogi, epistemik, dan segala macam istilah lainnya yang bakal membuat kepala mumet (baca: pusing).

Hal ini saya temui ketika dalam sebuah diskusi daring, ada pembahasan yang begitu rumit hingga saya bingung, sebenarnya pemateri ini berbicara tentang apa. Tak lama usai orang kiri itu selesai, maka seorang profesor (yang tak memiliki tendensi kiri) yang juga menjadi pemateri turut menjelaskan topik yang sama, saya pribadi langsung nyambung.

Tak lama kemudian, kawan saya berkata: “sangar yo pematerine” (hebat ya pematerinya). Lalu saya bertanya pada yang bersangkutan apakah ia paham atau tidak terkait apa yang disampaikan sang pemateri Kiri itu, dan mengejutkannya, ia tidak paham. Bagaimana sesuatu bisa “sangar” kalau tidak bisa dipahami?

Hal ini tidak terlepas dari penggunaan kosakata yang telah saya sebutkan di atas yang membuat seseorang dianggap, terlihat, dan terdengar “sangar” walaupun tidak bisa atau susah dipahami. Kiri macam itu adalah Kiri show-off yang berbicara bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri demi meningkatkan prestise-nya.

Mental yang terbentuk di kalangan orang Kiri semacam itu biasanya adalah mental tempe, yang tidak percaya diri jika tidak menggunakan istilah atau kosakata rumit. Padahal pemateri itu tugasnya menyampaikan materi, materi itu disampaikan agar orang lain dapat menambah ilmu, lalu buat apa menyuguhkan materi yang orang lain tidak memahami, apalagi menambah ilmu, wong dipahami aja susah.

Maka dari itu, sudah dua tahun terakhir, semenjak 2019, saya sedikit mengurangi membaca buku kiri yang sulit untuk dipahami, bahkan dalam memilih buku yang akan dibeli, ada baiknya kita membaca terlebih dahulu sinopsis belakang buku atau kalau ada buku contohnya dibaca terlebih dahulu baru membelinya, karena buku itu bertujuan untuk menambah wawasan pembacanya. Lalu wawasan apa yang akan kita dapat kalau susah memahami isinya?

Seorang penulis yang baik akan menyesuaikan karyanya dari sudut pandang pembaca, sehingga para pembaca pun mudah dalam mencerna maksud sang penulis dan ia dapat menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain. Ingat! Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Kalau sukar dipahami, bukan lagi dia tidak bermanfaat, tapi justru merugikan karena kita harus beli bukunya dan kita tidak paham (hal ini tidak berlaku kalau bukunya gratis ya).

Selain masalah pola bicara…

Artikel ini telah dibaca 177 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

KPK Kudu Cepet Tangkap Harun Masiku

28 Januari 2022 - 06:35 WIB

Covid Medical Nemesis?

27 Januari 2022 - 13:28 WIB

Edy Mulyadi Terlalu Nekat Sih, Padahal Ia Bukanlah Arteria Dahlan

27 Januari 2022 - 10:55 WIB

Thuyulkrasi

26 Januari 2022 - 14:53 WIB

Anies dan Gagasan Mewujudkan Persatuan Indonesia

26 Januari 2022 - 13:10 WIB

Daftar Oligarki Viral, Politisi Istana Katut, IKN Digugat

26 Januari 2022 - 12:42 WIB

Trending di kempalanalisis