Tommy, si bungsu laki-laki, adalah anak kesayangan Soeharto. Ia sangat disayang dan dimanja. Dialah Sang Pangeran Cendana yang digadang-gadang akan bisa meneruskan takhta sang ayah. Tapi, petualangan bisnis Sang Pangeran yang tidak terkontrol akhirnya menjadi salah satu faktor yang menjungkalkan kekuasan sang bapak.
Kelemahan Soeharto terletak pada anak-anaknya. Anak-anak Soeharto justru menjadi ‘’pengapesan’’ atau titik lemah yang bisa mematikan. Seperti Tungkai Achilles, Soeharto yang sakti mandraguna punya pengapesan pada tungkainya. Itulah anak-anak Soeharto. Ketika tungkai itu dibidik, ambruklah dia.
Orang Jawa punya pepatah ‘’wingko katon kencana’’, kue jenang yang berwarna cokelat akan terlihat seperti emas di mata orang tua. Seberapa buruk pun tingkah polah anak, orang tua akan menganggapnya baik. Seberapa buruk tampilan sang anak, orang tua akan melihatnya cakep dan bagus.
Itulah yang membawa konsekuensi buruk kepada orang tua yang tidak menyadari jebakan itu. orang Jawa juga mengenal pepatah ‘’anak polah bapak kepradah’’, karena anak bertingkah maka bapak yang menanggung risikonya. Tingkah polah anak Soeharto itu akhirnya membuat Soeharto ‘’kepradah’’ dan harus lengser dengan pahit.
Para presiden Indonesia pasca-Soeharto mempunyai kisah yang berbeda-beda dalam mengelola anak-anaknya. Masa kepemimpinan Habibie dan Gus Dur yang singkat tidak banyak melahirkan cerita mengenai para pangeran.
Semasa keperesidenannya yang singkat Megawati juga tidak sempat mengader anak-anaknya. Semasa Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden selama 10 tahun ia mengader anak-anaknya secara diam-diam dan tidak terlalu mencolok. Dua anaknya tidak terlibat bisnis secara langsung.
Sekarang di era Jokowi kisah-kisah para pangeran mulai muncul lagi. Skalanya mungkin tidak sama dengan era Soeharto, tapi pada beberapa sisi ada kesamaan, dan pada sisi lainnya Jokowi melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Soeharto.
Pada masa-masa terakhir kekuasaannya, Soeharto menempatkan putri sulungnya, Siti Hardiyanti alias Mbak Tutut sebagai menteri sosial. Ketika itu rezim Soeharto sudah mulai kalang kabut karena serbuan krisis moneter yang mulai terasa pada 1997. Keberadaan Mbak Tutut tidak banyak membantu kelanggengan kekuasaan bapaknya. Mbak Tutut pun menyaksikan pelengseran bapaknya dari istana.
Pada periode lima tahun pertama pemerintahan Jokowi, keterlibatan keluarganya masih tidak terlihat. Tetapi, setelah memasuki periode kedua, keterlibatan para pangeran di keluarga Jokowi menjadi sangat mencolok.
Gibran Rakabuming Raka, si mbarep yang sebelumnya terlihat tidak punya ambisi politik, tetiba dimunculkan menjadi walikota Surakarta, kampung halaman Jokowi. Sekarang semakin terlihat tanda-tanda bahwa Gibran disiapkan sebagai penerus bapaknya.
Sang menantu, Bobby Nasution dijadikan sebagai walikota Medan, daerah asal Bobby. Ibarat raja Jawa, Jokowi memberi tanah perdikan kepada anak dan menantunya. Apa yang dilakukan Jokowi kepada anak-anaknya punya kemiripan dengan apa yang dilakukan Soeharto.
Di antara para pangeran itu, si bungsu Kaesang Pangarep, menempuh jalan yang berbeda. Kaesang lebih memilih jalur bisnis ketimbang politik. Dan jalur bisnis yang dilewati Kaesang adalah jalur tol super-highway yang lempeng, mulus, tanpa hambatan.
Dalam usianya yang baru 27 tahun Kaesang sudah mengembangkan sayap binsis yang menggurita. Venture bisnisnya mengagetkan banyak orang ketika membeli delapan persen saham perusahaan makanan senilai hampir Rp 100 miliar.
Jumlah itu tidak teramat besar. Tetapi, bagi seorang anak presiden hal itu memunculkan pertanyaan dan kecurigaan. Karena itu pantas saja para netizen mempertanyakan sumber kekayaan Kaesang melalui tagar ‘’Dari Mana Duit Kaesang’’ menjai trending topic di Twitter, Desember lalu.
Para pangeran anak-anak Jokowi itu sekarang tengah menjadi sorotan publik. Kakak beradik Gibran-Kaesang dilaporkan ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) oleh aktivis demokrasi Ubedillah Badrun.
‘’Duet Pangeran Solo’’ itu dicurigai menerima aliran uang gelap dari sebuah perusahaan yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan. Ubedillah mendesak KPK segera memeriksa para pangeran. Ubedillah juga mendesak KPK memanggil ‘’sang raja’’, bapak para pangeran itu.
Anak polah bapak kepradah. Polah para pengeran itu bisa membuat sang raja mengalami kesulitan politik pada masa-masa terakhir kekuasaannya. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi