Bagaimana dengan dunia ramalan di jaman dulu? Di Barat kita mengenal Nostradamus, namun ia tidak membuat alasan kalau ramalannya tidak terjadi. Ia adalah seorang Yahudi Perancis yang hidup di abad 16, di yakini oleh masyarakat Barat telah membuat banyak ramalan yang akurat termasuk dua perang dunia yang telah terjadi.
Tak peduli bagaimana orang-orang membicarakan Nostradamus dan astrologi, buku ramalannya telah dicetak ulang selama lebih dari 400 tahun. Ini mungkin terasa mengejutkan, tetapi kata “Nostradamus” adalah salah satu nama yang paling dicari di Internet, bahkan lebih populer dibanding Osama Bin Laden atau Madonna. Apa yang ingin diketahui orang-orang di abad 21 tentang Nostradamus dan ramalannya? Bukunya, “Centuries” di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1672. Pada tahun 1781 buku tersebut di larang beredar oleh gereja katolik Roma.
Ramalan mengenai perang Balkan misalnya, berdasarkan pada seseorang yang oleh Nostradamus di gambarkan sebagai “sang tiran.” Dia memprediksikan bahwa Slovakia akan “mengganti pangerannya” dan “menaikkan pasukan ke pegunungan,” seperti sebuah perang gerilya. Dia juga membicarakan “ketika kutub utara adalah sebuah kesatuan ” (mungkin NATO?), dan menunjuk banyak tempat di daerah Balkan seperti Yunani, Italia dan wilayah Mediterran.
Gambaran lainnya adalah, ketika “elang” (simbol Amerika Serikat) dan “ayam jantan” (simbol Perancis) berdiri bersama. Juga ada prediksi tentang waktu yang spesifik ketika Inggris, Polandia dan Czechoslovakia (sekarang Republik Czech dan Slovakia) “membentuk aliansi baru.” Ini gambaran tentang waktu saat para pemimpin negara blok timur setuju untuk bergabung dengan NATO. Dia meramalkan, dalam perang yang berlarut-larut, menghabiskan waktu tujuh bulan, aliansi ini akan menang. Sesudah perang ini, “damai di bumi dalam waktu yang lama.”
Termasuk juga ramalan tentang tagedi serangan WTC. “Pada sebuah tahun di abad baru lebih sembilan bulan, dari langit akan muncul raja teror yang hebat. Langit akan terbakar 45 derajat… api menghampiri kota baru yang besar… akan terjadi halilintar… perang besar ketiga akan terjadi saat kota terbakar.”
Hanya sedikit karya ilmiah mengenai Nostradamus. James Randi dengan The Mask of Nostradamus: The Prophecies of the World’s Most Famous Seer (Ramalan-ramalan dari Peramal Paling Terkenal Dunia). Randi menyatakan bahwa Michel Nostradamus adalah seorang dukun atau orang gila dan tidak mempercayai dirinya sendiri terhadap apa yang dilakukannya. Bagaimanapun juga, tulisan-tulisan yang ditinggalkan oleh Nostradamus setelah kematiannya menunjukkan dia tidaklah gila sama sekali. Dalam karyanya, Nostradamus tidak memakai permainan huruf dan kata-kata atau nama-nama rahasia.
Tentu saja penafsiran dari ahlipun banyak salahnya, bahkan ramalan Nostradamus sendiripun sebenarnya sangat sulit untuk di prediksi. Ketepatan ramalan Nostradamus hanya bisa terlihat jelas ketika peristiwa yang dia ramalkan telah terjadi. Waktulah yang akan membuktikan apakah ramalan tentang terjadinya Perang Dunia III seperti yang diramalkan Nostradamus.
Selanjutnya, ada sedikit tentang ramalan Leonardo da Vinci tetapi mengetahui dengan sempurna dan baik tentang pengobatannya, kebudayaan dan prestasi-prestasi teknik mesin dan rancang-bangun; bagi Nostradamus, ia dikenal hanya dalam hubungan dengan kebatinan.
Di Indonesia, ada juga peramal sekaliber Nostradamus. Ia adalah pujangga besar Keraton Surakarta, R. Ngabehi Ronggo Warsito. Karyanya pun digolongkan ke dalam “Serat-Serat Jangka” (serta yang berisi ramalan). Yakni Serat Jaka Lodhang, Serat Kalatidha, Sabdatama dan Sabdajati. Keempat serat ini menarik untuk dikaji, karena di dalamnya R. Ngabehi Ronggo Warsito memaparkan visi moralitas kebangsaan yang dapat dijadikan pemandu dalam kehidupan sosial, di samping banyak menuliskan pesan-pesan ramalannya, yang biasanya ditulis dalam “candra sengkala” dan “surya sengkala”. Yakni angka-angka tahun yang disamarkan dalam kata-kata atau kalimat yang indah.
Generasi bangsa ini seringkali lebih mengenal tokoh-tokoh dan karya-karya Yunani dan Barat ketimbang tokoh-tokoh bangsanya sendiri. Sebut misalnya Yosodipura, Ranggawarsita, Mangkunegara IV dll. Padahal tokoh-tokoh dari Yunani itu jauh lebih tua, sementara tokoh-tokoh bangsa itu rata-rata justru hidup pada periode Jawa Tengahan (abad 17 dan 18). Inilah ironi dan snobery intelektual yang boleh dibilang sangat keterlaluan dari mentalitas urban penjajahan. Itulah sebabnya, melaui usaha pengkajian karya-karya mereka, dimaksudkan untuk memperkenalkan dan mendekatkan “jarak historis” generasi bangsa ini dengan mereka. Sehingga dapat menimba “telaga sejuk” nilai-nilai yang ditawarkannya.
Dekonstruksi Masa Depan: Merayakan L’Avenir

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi