Menu

Mode Gelap

Kempalanart · 2 Jan 2022 16:01 WIB ·

Mengglorifikasi Ramalan vs Merayakan L’Avenir


					Mengglorifikasi Ramalan vs Merayakan L’Avenir Perbesar

KEMPALAN: Tahun baru dan ramalan seolah tak bisa dipisahkan. Bahkan bisa dibilang mometumnya para peramal. Dari ramalan yang bersifat ilmiah, sampai ramalan yang bersifas mistis.

Menjelang akhir tahun banyak pakar dari semua bidang: ekonomi, politik, sosial, budaya, termasuk juga mistisisme yang unjuk suara. Mereka adalah para peramal yang memberikan gambaran tentang bagaiamana kondisi di tahun yang akan datang, seiring pergantian tahun.

Secara ontologis, ramalan itu bersifat spekulatif tentang masa depan. Ada yang berdasarkan pola tertentu yang untuk membacanya perlu keahlian. Bisa kita lihat ada ramalan dengan pola bintang seperti zodiak, pola penanggalan weton, menggunakan kartu seperti ramalan tarot, dsb. Selain itu ada juga orang-orang yang mengaku memiliki satu “visi” atau pandangan intuitif tentang masa depan. Mereka ini seringkali menjadi rujukan orang yang ingin mendahului sang waktu. Mereka berhasrat untuk mengetahui apa yang terjadi di masa depan atau masa lalu yang tak terungkap, serta apa yang mereka tidak ketahui.

Dalam bidang ilmiah, meramalkan keadaan yang akan terjadi dengan memperhatikan “track record” berbagai kejadian yang telah dialami sepanjang satu tahun yang telah berjalan. Dari berbagai peristiwa yang telah terjadi itu membentuk pola yang kurang lebih sama, sehingga bisa dideteksi apa yang akan terjadi berikutya. Kalau pun prediksi ini tidak sesuai, maka di sebut anomali. Anomali ini pun menjadi konteks yang akan menjustifikasi kejadian serupa di masa yang akan datang.

Namun di bidang mistik, yang digunakan adalah “mata batin” sang peramal. Apa yang terjadi bisa dilihat melalui “terawangan” batinnya tersebut. Banyak peramal yang “vision” nya itu telah terbukti dengan akurat. Apakah ini sebuah kebetulan. Bagi mereka yang percaya “dunia gaib” yang menjadi paradigma sang peramal akan mengamini kemampuan sang peramal untuk melihat apa yang akan terjadi. Jika tidak terjadi, sang peramal mungkin sedang menglami halusinasi.

Dalam dunia nyata, media masa di sekeliling kita dipastikan masih bergelanyut mitos-mitos “gaib” yang dijadikan komoditas. Para peramal pun bisa saja jadi jajaran selebritis yang rajin masuk layar infotainment. Orang-orang infotainment tak peduli apakah akurasi para peramal itu bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Lebih dari itu, para peramal memang biasanya memasang “alasan” kalau-kalau ramalannya tidak tepat. Dulu, mendiang Mama Laurent misalnya, dalam sebuah Infotainment pernah bilang “Semua yang saya lihat dengan mata batin hanya gambaran untuk peringatan saja. Semuanya bergantung pada manusianya. Kalau mereka mawas diri, berhati-hati, dan rajin berdoa pada Sang Pencipta, ramalan saya bisa meleset”.

Demikian juga Ki gendeng Pamungkas yang sama terkenalnya dengan mama Laurent di masanya. Boleh jadi orang yang pernah kesana untuk meramalkan nasib. Tapi memang tokoh yang satu ini semi-selebritis yang well-known dengan image rambut gondrong acak-acakannya plus kemampuan supra naturalnya, termasuk melihat masa depan yang terkadang menimbulkan kontroversi juga. Selain dua orang itu, ada banyak orang yang memang menerjuni dunia meramal untuk melayani orang-orang haus akan ramalan.

Next: Bagaiamana dengan dunia ramalan di jaman dulu?

Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Metaverse Fenomena Hiperrealitas

24 Januari 2022 - 05:12 WIB

Shuma Gorath di Komik, Gargantos di Film, Kenapa Musuh Doctor Strange Berbeda Nama?

11 Januari 2022 - 10:35 WIB

Terkait Perannya di Spider-Man: No Way Home, Andrew Garfield Berbohong

10 Januari 2022 - 08:23 WIB

Mengenang Tjarda, Mengingat Kejatuhan Hindia Belanda

9 Januari 2022 - 17:39 WIB

Sains di Era Hawking

9 Januari 2022 - 14:59 WIB

Review Film Spider-Man: No Way Home

8 Januari 2022 - 11:34 WIB

Trending di Kempalanart