Pengusaha nasional Jusuf Hamka, yang menjadi ketua Musti, menjelaskan alasan mengapa dia bersama tokoh Tionghoa lainnya memberikan award itu kepada HRS. Hamka mengatakan bahwa ia melihat sosok HRS sebagai pelindung etnis Tionghoa. Ia melihat wibawa pada sosok HRS ketika meredam kasus-kasus yang menyangkut penistaan agama.
Jusuf Hamka—anak angktan almarhum Buya Hamka–melihat HRS sebagai sosok yang mampu menyatukan umat dan bersikap sangat toleran terhadap agama dan etnis lain. Sebagai ulama, HRS dianggap mampu menyatukan umat Islam di Indonesia. Salah satu indikasi yang disebut Hamka adalah perhelatan 411 yang diklaim dihadiri jutaan umat.
HRS dianggap mampu meredam trauma etnis Tionghoa yang khawatir umat Islam akan melakukan makar dan akan terjadi lagi huru-hara seperi 1998. HRS dianggap berhasil meyakinkan kelompok minortitas dengan merangkul dan melindungi kelompok etnis Tionghoa non-muslim.
Enam tahun setelah penobatan MOTY itu HRS menghadapi beberapa insiden yang membuatnya masuk penjara. Kalangan oposisi melihat hal ini sebagai persekusi sistematis untuk menghilangkan pengaruh politik HRS di kalangan umat.
Persekusi itu dimaksudkan untuk meminimalisasi pengaruh HRS dalam gerakan politik Islam. Vonis empat tahun untuk kasus pelanggaran protokol kesehatan dianggap tidak adil dan lebih dilihat sebagai vonis politik ketimbang vonis hukum.
Pembubaran FPI (Front Pembela Islam) dan pemenjaraan para pemimpinnya adalah upaya untuk mencerabut akar gerakan HRS. Meski demikian, FPI tidak serta merta mati karena cerabutan itu. Organisasi ini tetap hidup dalam gerakan sel diam. Gerakan organisasi ini berubah wujud menjadi gerakan grass root alias akar rumput. Di atas permukaan rumput terlihat mati, tetapi akarnya masih tetap hidup. Dengan satu kali siraman hujan rumput yang meranggas itu akan tumbuh hijau dan segar.
Sejarah gerakan oposisi membuktikan pola itu. Selama puluhan tahun pola-pola pemberangusan selalu sama. Pemenjaraan, intimidasi, isolasi, dan ancaman oleh gerakan polisi rahasia menjadi teori text book yang diterapkan dari masa ke masa.
Meski demikian, gerakan oposisi tidak pernah bisa mati dengan kekerasan represi semacam itu. Gerakan oposisi selalu menyimpan energi seperti per atau pegas. Ketika pegas semakin ditekan maka daya pantulnya akan semakin besar ketika tekanan terlepas.
Semua gerakan oposisi di seluruh dunia membuktikan hal itu, mulai dari Nelson Mandela di Afrika Selatan, Imam Khomeini di Iran, dan Corizon Aquino di Filipina. Ketiga tokoh itu menjadi representasi tiga gerakan oposisi yang mempunyai spektrum yang berbeda-beda.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi