Menu

Mode Gelap

Kempalandok · 1 Jan 2022 09:51 WIB ·

Strategi Baru Mengatasi Covid-19


					Kasus COVID-19 di Zhenjiang-AntaraNews Perbesar

Kasus COVID-19 di Zhenjiang-AntaraNews

Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D

Oleh: Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D

KEMPALAN: Diuntungkan oleh cuaca tropis, angka obesitas rendah, comorbiditas yang relatif rendah walaupun naik terus, konsumsi daging, alkohol dan energi perkapita yang rendah serta usia yg relatif muda, bangsa ini mampu menghadapi pandemi covid-19 dengan relatif sukses. Resiko kematian pasien Covid-19 di Indonesia paling tidak hanya 1/30 lebih rendah dibanding di AS, 1/150 dibanding di Italia pada 6 bulan pertama pandemi. Sayang sekali Pemerintah mengikuti dengan sangat taat strategi WHO seperti banyak negera lain, sehingga panen bonus demografi kita justru terancam oleh learning loss akibat sekolah dan kampus tutup, penggerusan modal sosial, serta angka pengangguran yang tinggi akibat penutupan bisnis. Akibatnya, di Jawa Timur misalnya, angka kemiskinan kota meningkat, sementara kemiskinan desa justru menurun. Namun secara umum ketimpangan pendapatan makin tinggi.

Sambil menunggu keputusan Pemerintah tentang status pandemi ini sebagai public health emergency of international concern, kita perlu menyusun strategi baru untuk menangani pandemi ini dengan melindungi sekaligus memanfaatkan bonus demografi dan kelebihan geobudaya masyarakat kita dibanding masyarakat Eropa, Jepang dan AS. Pembatasan mobilitas antar wilayah perlu dilakukan tapi mobilitas lokal (di dalam satu kota atau kecamatan) tetap boleh dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara selektif. Ini agar ekonomi lokal tetap bergerak dengan tingkat yg pasti lebih rendah, sementara tempat beribadah, sekolah dan kampus, serta bisnis dan layanan publik tetap buka.

Case Fatality Rate covid-19 ini relatif rendah dibanding penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, gagal ginjal dan jantung koroner serta kanker. CFR ini masih bisa ditekan lebih rendah dengan inovasi tata kelola dan pengobatan yang lebih manjur, sehingga tertular Covid-19 tidak perlu jadi masalah besar yang menakutkan dan mengganggu, asalkan yang terpapar tetap relatif sehat dan tidak sampai wafat. Tertular malah menjadi vaksinasi alamiah gratis. Fokus kebijakan dan program dapat dialihkan pada peningkatan imunitas melalui nutrisi yang lebih baik berbasis kekayaan agromaritim kita serta promosi gaya hidup yang aktif secara fisik, mental dan spiritual.

Anjuran berlebihan memaksa agar tetap tinggal di rumah tidak saja keliru, tapi juga sekaligus menurunkan imunitas. Perampasan kebebasan sipil akan menimbulkan stress psikologis dan kekecewaan serta keputusasaan. Penurunan aktifitas fisik, isolasi, pasifitas dan kebosanan akibat penggunaa gadget dan televisi serta konsumsi kudapan yg meningkat, justru melemahkan ketahanan tubuh menghadapi virus. Kenaikan interaksi melalui medsos dan internet ini justru membuka peluang bagi agenda ifrity untuk memutuskan silaturahmi agar manusia hidup menyendiri di ruang maya masing-masing. Memakai masker dan menjaga jarak merupakan pintu masuk ke ruang maya yang menandai keruntuhan komunikasi yang akrab penuh kehangatan. Hitech perlu, tapi high touch juga tetap perlu.

Selanjutnya vaksinasi perlu dikembalikan pada sifatnya yang opsional. Vaksinasi tidak boleh dijadikan alat intimidasi seolah kepedulian pada keselamatan sesama harus dibuktikan melalui vaksinasi. Perhatian pada imunitas perlu lebih ditingkatkan. Mereka yang sembuh setelah terpapar Covid-19 dapat diberi sertifikat imunitas. Vaksinasi berbayar dibuka lebar, tapi bersifat pilihan bagi publik. Industri farmasi dipersilahkan berinovasi untuk menciptakan vaksin produk domestik, dan publik tetap diberi pilihan. Perampasan kebebasan sipil cukup sampai pada pembatasan mobilitas antar-wilayah; tidak perlu ditambah dengan berbagai persyaratan tes dan vaksinasi yang membebani masyarakat.

Komunitas kesehatan harus memberi masukan saintifik yang lebih seimbang agar konsekuensi sosial, ekonomi dan budaya serta politik tidak terlalu melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dari perspektif politik kesehatan dan kedaulatan kesehatan, kemungkinan pandemi sebagai bagian dari bioterrorism patut dikaji agar kita tidak dijadikan mangsa para predator kesehatan yang mengambil keuntungan di atas penderitaan masyarakat.

Jatingaleh, Semarang 1/1/2022

Editor: Freddy Mutiara

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Imelda Ciptakan PPMS untuk Percepat Pertolongan Pertama pada Pasien

27 Januari 2022 - 19:42 WIB

Epidemolog Puji Forkopimda Jatim Tangani Omicron, Khofifah: Kita Harus Terus Sinergi

27 Januari 2022 - 12:53 WIB

UBAYA Kembali Gelar Booster Vaksin Drive-Thru Bersama Halodoc

27 Januari 2022 - 10:59 WIB

Selang Tiga Bulan, Stunting di Surabaya Turun Drastis dari 5.727 Kini 1.657

27 Januari 2022 - 06:31 WIB

Pasien Omicron Surabaya Tinggal Satu Kasus, Wali Kota Eri: Jangan Panik dan Tetap Patuhi Prokes

26 Januari 2022 - 16:15 WIB

Dinkes Surabaya Gerak Cepat Tangani DBD di Menur Pumpungan

26 Januari 2022 - 12:26 WIB

Trending di Kempalandok