
Catatan Ekonomi Bambang Budiarto
KEMPALAN: Akhirnya sampai jugalah kita di Tahun 2022. Selamat Tahun Baru, Selamat Datang Tahun Macan Air. Macan adalah representasi kekuatan, keberanian, juga percaya diri. Sementara air sebagai gambaran sebuah perjalanan yang mengalir begitu saja. Bahasa sederhananya kira-kira seperti itu, untuk makna yang sebenarnya tentu pegiat astrologi China yang lebih memahami. Tahun Macan Air akan dimulai saat Imlek 1 Februari 2022 dan berakhir di 21 Januari 2023.
Begitulah Tahun 2022, yang dalam tinjauan makro ekonomi juga diberi label sebagai tahun pemulihan ekonomi yang lebih cepat, tahun akselerasi pertumbuhan ekonomi, golden moment ekonomi Indonesia, tahun lepas landas, ataupun tahun penuh peluang dan lain-lain. Begitu banyak harapan dan sebutan disematkan untuk Tahun 2022, namun yang pasti tahun yang diproyeksi pertumbuhan ekonominya akan berada di antara 4,7%-5,5% ini boleh dikatakan sebagai tahun tanpa kambaing hitam.
Petasan sudah dinyalakan, kembang api telah dipancarkan, terompet sudah dibunyikan, berarti kick off pertaruhan ekonomi telah dimulai. Mulai tingkat pusat, provinsi, sampai kota dan kabupaten di semua bidang dan sektor telah menatap tegak sekuat seberani se-percaya diri macan dalam mengarungi perjalanan ekonomi mengikuti aliran air sesuai kebijakan dan ketentuan yang telah dibangun untuk sampai pada capaian-capaian yang sudah ditetapkan.
Dengan total pagu Anggaran Pendapatan & Belanja Negara (APBN) yang diperkirakan akan berada di kisaran Rp 3.000 triliun diharapkan akan mampu menciptakan serapan tenaga kerja yang sudah mendekati 10 juta pencari kerja. Kementrian Keuangan memiliki catatan posisi utang sampai awal November 2021 sebesar Rp 6.600 triliun lebih, yang berarti nilai ini mendekati 40% Produk Domestik Bruto (PDB).
Sementara untuk 2022, pemerintah berencana melakukan penarikan utang Rp 973,6 triliun. Inflasi diperkirakan mampu ditekan pada posisi rendah, 3%-4%. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di semua wilayah diyakini mampu menjalankan perannya dengan baik dalam mengendalikan salah satu indikator makro ekonomi ini.
Keseluruhan variabel-variabel yang menjadi indikator tumbuh berkembangnya ekonomi tersebut; mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, ketenagakerjaan, anggaran, dan lain-lain, sejatinya tidaklah pernah berdiri. Keseluruhan variabel tersebut simultan, saling mempengaruhi satu sama lain. Memahami situasi yang demikian tentu saja yang menjadi penting adalah komunikasi kelembagaan diantara kementrian terkait.
Mencermati keseluruhan historical data tersebut yang menjadi penting adalah keberadaan dari Pandemi Covid-19. Dua tahun terakhir dalam setiap kegagalan capaian-capaian target ekonomi seolah senantiasa dikaitkan dengan Covid-19. Kegagalan serapan tenaga kerja karena Covid-19, decreasing-nya pertumbuhan ekonomi pun karena Covid-19, ke-mandeg-kan ekspor juga karena Covid-19.
Pendek kata hampir semuanya terkait Covid-19 dan seolah Covid-19 adalah pihak yang salah, atau minimal yang gampang disalahkan dijadikan kambing hitam. Melihat catatan sampai akhir 2021 bahwa telah terjadi penurunan yang cukup signifikan atas sebaran virus ini, tentunya memasuki 2022 dengan situasi yang sudah lebih baik.
Dengan bahasa yang lebih mudah dapat dikatakan masuk di 2022, semua kita sudah tidak boleh dan tidak dapat mengkambinghitamkan Covid-19 kembali. Meskipun sedikit dibuat was-was dengan Corona varian baru, Omicron. Sekarang ini adalah saat dalam pembangunan ekonomi yang normal dengan beberapa penyesuaian sesuai protokol kesehatan.
Pertanyaannya sekarang adalah, jika capaian pertumbuhan 4,7%-5,5% yang ditargetkan tidak mampu dicapai sampai di akhir 2022, sejauh manakah boleh mengatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh Corona dengan varian baru, Omicron ? Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi