Kiranya melalui momen Natal ini kita mengingat kembali semangat pelayanan yang dihadirkan oleh-Nya. Pelayanan bukan menjadi ajang gengsi dengan rekan seiman yang lain, apalagi kita saling sikut-sikutan untuk menunjukkan siapa yang lebih baik. Setiap pelayanan adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menggenapkan kehendak-Nya di bumi, seperti halnya Kristus sebagai Kepala Gereja yang telah memberikan teladan bagi umat-Nya. Ia melayani sebagai hidden figure yang menjalankan kehendak Allah tanpa perlu puji-pujian dari orang lain.
Faktanya, semangat pelayanan semacam demikian tidak mudah untuk dijalankan, apalagi kalau kita bicara soal konsistensi pelayanan. Sering kali kita hanya semangat di awal, tetapi setelah ada kesulitan dan minim apresiasi, kita cenderung untuk menyerah. Perlahan namun pasti, kita mulai mundur dari aktivitas pelayanan. Tetapi pandanglah kepada Kristus, mulai dari inkarnasi ke dunia sampai mati di kayu salib. Pernahkah Ia mengeluh karena merasa dicuekin, atau mendapat penolakan dari kaum sebangsa-Nya? (Mat. 13:57).
Alkitab sama sekali tidak pernah menuliskan keluh kesah Yesus karena diri-Nya sendiri. Ia justru menyatakan ketegasan bahwa Ia sungguh mengerti apa yang sedang dikerjakan-Nya. Di saat kelahiran-Nya, tidak ada satu pun imam, orang Farisi, ataupun ahli Taurat yang datang menyambut Dia, padahal mereka yang mengaku paling “mengerti” Kitab Suci. Tetapi justru berita kelahiran-Nya membawa harapan kepada mereka yang menanti kedatangan-Nya. Hal ini terus berlanjut di dalam pelayanan-Nya selama 3,5 tahun. Puncaknya ialah ketika Ia rela menerima cawan murka Allah agar umat Tuhan beroleh pengampunan dosa.
Jadi, apa lagi yang kita keluhkan? Jika Kristus saja melayani dengan semangat demikian, masakan kita terus melayani supaya dilihat sebagai orang “rohani” supaya semua orang tahu betapa besarnya kontribusi kita di dalam gereja? Mental seperti ini tentu tidak akan membawa kita kepada pertumbuhan rohani yang sehat. Kita justru makin jauh dari apa yang Kristus kerjakan. Walaupun harus diakui bahwa tidak mudah untuk mengatasi hal ini, tetapi kita harus memandang kepada Kristus. Ia sudah mati dan bangkit untuk membawa kita kepada hidup yang baru dan cara hidup yang baru, sehingga kita dimampukan untuk melayani seperti Kristus juga melayani. Kiranya momen Natal ini menjadi titik balik untuk menggairahkan kembali semangat pelayanan kita secara benar. Walaupun kita hanya sebagai hidden figures di tengah dunia dan gereja, Tuhan melihat apa yang kita lakukan bagi Kerajaan-Nya. Amin.
(Trisfianto Prasetio, aktivis pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia/GRII)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi