Bukankah hal ini bertolak belakang dengan zaman ini? Semua orang bersaing satu sama lain demi mengejar posisi nomor satu, memeras diri begitu dalam supaya dikenal dan diakui oleh banyak orang. Tidak hanya soal mengejar kekayaan ataupun jabatan tertentu, ada pula yang berjuang demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Di abad ke-21 ini, kita melihat gerakan feminisme yang begitu liar. Di mana-mana gerakan emansipasi wanita terus digaungkan. Baik berbagai posisi jabatan tertentu maupun proporsi jumlah karyawan harus diisi oleh wanita, seolah-olah ada stigma bahwa wanita lebih superior dibanding pria. Padahal mungkin sebagian pria tidak merasa perlu disaingi. Lebih buruk lagi, kita juga melihat gerakan LGBT yang makin gencar di mana-mana, seolah-olah memaksa masyarakat untuk menerima mereka. Kita hidup di zaman di mana semua merasa diri yang paling benar, tidak peduli dengan norma ataupun kebenaran di Alkitab yang seharusnya mereka taati. Lain halnya dengan film ini yang justru mendorong adanya perjuangan dengan cara yang elegan tanpa harus mendobrak relasi sosial dengan yang lainnya.
Lebih celakanya lagi, mental seperti demikian kita bawa juga ke dalam gereja. Melayani begitu rajin supaya dianggap sebagai orang Kristen yang baik. Ada pula yang berjuang begitu keras di dalam pelayanan supaya mendapat pengakuan dari rekan seiman. Tetapi ketika kerja keras kita tidak digubris, kita merasa sakit hati. Kita tidak rela perjuangan dan pengorbanan kita dibiarkan lewat begitu saja. Kita selalu ingin adanya orang lain yang harus mengakui kontribusi kita di dalam pelayanan. Jika hal ini tidak kita bereskan, sangat mungkin terjadi konflik dengan rekan sepelayanan. Semua hanya memikirkan perasaan masing-masing, tanpa melihat kepada Kerajaan Allah yang lebih besar. Coba bandingkan dengan pesan dari film tersebut. Walaupun pada awalnya perjuangan mereka tidak digubris karena faktor warna kulit, mereka tetap memperjuangkan hak mereka secara elegan, dengan kemampuan dan prestasi, bukan konflik.
Hal ini sebenarnya bukan barang baru di dalam kekristenan. Yesus Kristus sudah memberikan teladan yang jauh lebih sempurna dibanding film tersebut. Selama 3,5 tahun pelayanan-Nya di dunia, tidak pernah sekali pun Ia menunjukkan persaingan dengan orang lain. Walaupun Ia adalah Anak Allah, tidak pernah Ia menunjukkan kuasa atau mujizat supaya terlihat lebih hebat dibanding yang lain. Pelayanan-Nya selalu terkait dengan penggenapan nubuat di Perjanjian Lama, bukan untuk pamer kuasa.
Sebaliknya, Ia justru memberikan apresiasi kepada orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Misalnya, Yesus meminta setiap orang juga memperhatikan Yohanes Pembaptis yang adalah nabi yang telah dinubuatkan (Mat. 11:7-14). Ia juga memuji iman dari orang bukan Yahudi (Mat. 8:10). Lalu, Ia menerima setiap orang berdosa seperti pemungut cukai dan perempuan yang berzinah asal mereka mau bertobat di hadapan-Nya. Sama sekali tidak ada usaha dari Yesus Kristus untuk menyatakan diri lebih “rohani” dibanding yang lain.
Teladan seperti ini sudah dimulai sejak kelahiran-Nya di tengah-tengah dunia. Ketika Ia lahir sebagai Mesias yang dijanjikan itu, adakah para imam atau orang Farisi yang datang menyambut Dia? Sebagai Raja di atas segala raja, tidak ada sambutan meriah yang Ia dengar. Justru suara pertama yang didengar oleh bayi Yesus, selain suara orang tua-Nya, adalah suara kambing domba yang sedang berada di kandang. Para imam dan orang Farisi baru sadar ketika orang majus datang untuk mencari Sang Mesias (Mat. 2:1-6). Itu pun tetap tidak menggugah mereka untuk langsung menyaksikan sendiri kelahiran-Nya di Betlehem. Ia bahkan diincar oleh Raja Herodes untuk dibunuh karena takut tampuk kekuasaannya direbut oleh Yesus (Mat. 2:16).
Ia justru datang bagaikan seorang hidden figure yang tidak diperhatikan oleh banyak orang. Tetapi Ia datang sebagai harapan bagi orang-orang yang sudah Tuhan siapkan. Ada para gembala dari masyarakat kelas bawah yang menyambut kelahiran-Nya. Ada juga seorang yang saleh seperti Simeon. Di usianya yang sudah lanjut, ia beroleh kasih karunia dari Tuhan untuk melihat Sang Juruselamat (Luk. 2:25-32). Begitu pula kepada seorang nabi perempuan, Hana, yang juga menantikan kedatangan Mesias dan akhirnya tergenapi (Luk. 2:36-38). Inilah Sang Mesias yang telah lahir itu, tetapi hanya segelintir orang yang menyambut Dia.
Di tengah segala hiruk-pikuk dunia saat itu, orang Farisi yang sibuk mencari tanda, raja-raja dunia yang sibuk mempertahankan jabatan dan kuasanya, lahirlah seorang bayi yang adalah satu-satunya Juruselamat bagi dunia, seorang Mesias di balik layar yang akan menggenapkan keselamatan bagi umat-Nya. Kondisi dunia yang tidak menerima Dia tidak membuat Yesus seolah-olah harus menonjolkan diri. Ia terus berteriak agar semua orang bertobat dan melihat Kerajaan Allah sudah datang, melihat diri-Nya sebagai Mesias yang sudah dinubuatkan oleh para nabi, bukan sebagai manusia super yang lebih berkuasa dibanding yang lain.
Yesus dengan setia menggenapkan rencana keselamatan yang sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama, bahkan sejak kelahiran-Nya. Tanpa sorak-sorai, tanpa puji-pujian dari dunia, Ia lahir sebagai seorang bayi mungil di tengah dunia berdosa. Seorang bayi yang nantinya membalikkan pergerakan sejarah dunia tanpa ada seorang pun yang menyadari. Pelayanan yang dikerjakan bukan untuk memamerkan kuasa, bukan pula demi pengakuan orang lain, melainkan demi menggenapkan seluruh kehendak Allah (Mat. 5:17-18). Yesus Kristus setia dan taat kepada Bapa dari sejak inkarnasi-Nya ke dunia sampai mati di kayu salib.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi