BOJONEGORO-KEMPALAN: Upaya pemberdayaan masyarakat Desa Bogo Bojonegoro melalui pengembangan produk unggulan yang diberikan oleh UBAYA terus berjalan. Kegiatan ini di-support Program Bantuan Pendanaan Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS yang diselenggarakan Ditjen Diktiristek Tahun Anggaran 2021. Program merupakan kolaborasi antara UBAYA sebagai insan Dikti, mahasiswa, dan mitra desa.
Universitas Surabaya (UBAYA) mengembangkan potensi sentra kelor di Desa Bogo – Bojonegoro melalui pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan produk unggulan yaitu produk berbasis kelor dan wisata edukasi “Taman Dolanan.” Kegiatan ini mendapat pendanaan dari Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS Dirjen Dikti Ristek Tahun 2021.

UBAYA telah memberikan berbagai pelatihan dan pendampingan dalam mengelola sumberdaya kelor menjadi berbagai produk unggulan seperti teh kelor, serbuk kelor, martabak kelor dan berbagai makanan berbasis kelor lainnya. Herbal corner merupakan salah satu produk yang dikembangkan UBAYA sebagai upaya untuk mengedukasi masyawakat modern (kaum milenial dan anak-anak) untuk mengkonsumsi minuman herbal berbasis kelor yang sangat bermanfaat bagi Kesehatan tubuh. Anggota yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari mahasiswa, dosen, perangkat desa, BUMDES, Kelompok Wanita Tani “Sri Rejeki”, Gubuk Kelor “Tunjung Wati” dan masyarakat desa Bogo. Keterlibatan dosen dan mahasiswa juga dari berbagai lintas disiplin ilmu di UBAYA yaitu Fakultas Farmasi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Fakultas Teknobiologi, Fakultas Industri Kreatif dan Fakultas Kedokteran.

Dr. Elsye Tandelilin, SE., MM., CHCM selaku ketua pelaksana program ini menyampaikan bahwa kegiatan ini berfokus pada pengembangan potensi desa yaitu kelor. Moringa Oleifera atau yang dikenal masyarakat Indonesia dengan istilah tanaman kelor merupakan tanaman yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Pemanfaatan yang maksimal dari daun, batang dan biji kelor diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Bogo. Selain itu, desa Bogo juga memiliki potensi yang bisa dikembangkan yaitu wisata edukasi, khususnya terkait dengan permainan tradisional yang saat ini mulai pudar di masyarakat.
Taman Dolanan merupakan media permainan tradisional anak-anak dan saat ini sudah berkembang menjadi area outbound untuk anak-anak usia sekolah (TK, SD, dan SMP) serta masyarakat umum. Pengembangan konsep outbound untuk remaja dan dewasa juga akan dikembangkan oleh Tim UBAYA bersama BUMDES Langgeng Makmur. Peningkatan kompetensi para outbound trainer juga dikembangkan oleh UBAYA melalui pelatihan training for trainers. Lokasi yang menunjang serta sumberdaya yang memadai memungkinkan wisata edukasi ini dikembangkan.
Selain itu, UBAYA juga memberikan pelatihan dan pembinaan untuk pendirian herbal corner. Pembinaan dimulai dengan lomba olahan kelor dimana para peserta diminta membuat menu makanan dan minuman yang kreatif berbasis kelor. Selain itu upaya pengembangan didukung pula dengan berbagai pelatihan yang dilakukan oleh tim UBAYA terkait olahan menu dan minuman herbal kelor untuk meningkatkan kualitas dan citra rasa makanan dan minuman sehat berbasis kelor. Pendirian herbal corner merupakan salah satu bentuk riil dari kreativitas pengembangan produk minuman herbal berbasis kelor.

Agar produk-produk desa kelor dapat dinikmati oleh masyarakat luas, maka kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan marketing online dan pembuatan konten video yang menarik dan persuasif. Selain itu, keterlibatan kaum milenial dalam pembuatan video promosi diinisiasi oleh UBAYA melalui lomba pembuatan konten video kreatif yang diikuti sekitar 16 kelompok. Seluruh kelompok mampu menghasilkan video- video kreatif tentang desa Bogo dan produk unggulannya.
Pemanfaat limbah organik juga diajarkan tim UBAYA agar masyarakat dapat memanfaatkan limbah organik seperti ranting dan daun kelor kering untuk pembuatan pestisida dan pupuk nabati/organik baik pupuk padat maupun pupuk organik cair. Hal ini tentu dapat membantu masyarakat untuk memelihara tanaman kelor dengan baik serta penghematan biaya pemeliharaan tanaman kelor.
Kami berharap Desa Bogo bisa menjadi Sentra Kelor dan Wisata Edukasi berbasis pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, diharapkan partisipasi dari semua warga untuk selalu berbenah dan berinovasi secara terus menerus, sehingga desa Bogo bisa terus berkembang dan maju menuju desa Makmur. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi