Senin, 1 Juni 2026, pukul : 08:12 WIB
Surabaya
--°C

Tingwe

Cara menikmati tembakau secara tradisional ini pelan-pelan tergeser dengan munculnya produk rokok pabrikan yang diperkenalkan oleh penjajah Belanda. Rokok tingwe yang kurang praktis pelan-pelan mulai ditinggalkan. Budaya menginang juga mulai banyak ditinggalkan karena penjajah Belanda melakukan kampanye aktif agar masyarakat meninggalkan budaya menginang yang dianggap kotor.

Di mata penjajah, kebiasaan mengunyah sirih dan pinang dan tembakau meninggalkan kotoran menjijikkan, karena aktivitas mengunyah sirih dan pinang dan tembakau itu meninggalkan jejak air liur berwarna kemerahan yang diludahkan di sembarang tempat.

Pabrik-pabrik rokok lokal mulai bermunculan di banyak tempat. Distribusi tembakau tak lagi sekadar tembakau rajangan. Para penikmat tembakau memiliki alternatif lain untuk menikmati tembakau. Jika sebelumnya mesti melinting sendiri, sekarang bisa menikmati rokok kretek instan. Tinggal ambil dari kotak rokok, bakar, lantas isap.

Mulanya sekadar industri rumah tangga, industri kecil yang dikerjakan di halaman rumah pemilik usaha, rokok produk dalam negeri kemudian tumbuh menjadi industri besar yang menguasai pasar nasional. Ini terjadi usai ramuan produk rokok kretek yang terdiri dari campuran tembakau dan cengkeh ditemukan di Kudus pada akhir abad ke-19.

Sejak saat itu, hingga hari ini, perlahan-lahan rokok kretek merangkak naik produksi dan penjualannya. Hingga pada akhirnya, pada periode 70-an, produk rokok kretek mulai merebut pasar rokok nasional yang sebelumnya dikuasai rokok putihan. Puncaknya, hari ini rokok kretek menguasai lebih dari 90 persen pangsa pasar Indonesia.

BACA JUGA  Sabet Golden Ticket Unesa dan Tembus Skuad Uber Cup 2026, Thalita Ramadhani Berkilau di Jalur Prestasi Dunia dan Akademik

Kejayaan rokok kretek benar-benar dimanfaatkan oleh negara untuk ikut ambil keuntungan dari bisnis ini. Cukai diterapkan terhadap produk rokok, termasuk rokok kretek. Praktis dengan hanya ongkang-ongkang, tiap tahun negara bisa mendapat banyak pemasukan dari cukai rokok. Dan setiap tahun pula, negara menaikkan angka cukai rokok dengan bermacam skema.

Meski demikian, produk rokok tetap laris di pasar nasional. Rokok kretek memiliki penggemar setia dengan cakupan yang merata dan luas, dengan varian produk yang beragam menyesuaikan selera pasar.

Sekarang cukai rokok kembali dinaikkan. Kali ini  dengan kenaikan sampai 12 persen. Tingkat kenaikan ini sangat tinggi karena biasanya kenaikan berkisar di bawah 10 persen. Mungkin Sri Mulyani sudah putus asa mencari akal untuk mendapat tambahan pemasukan kas negara. Sangat mungkin juga ada pesan sponsor, supaya harga rokok menjadi mahal sehingga konsumen rokok kretek berkurang.

Apakah para penikmat rokok akan menyerah oleh keputusan ini? Tidak akan segampang itu. Para perokok sudah cukup hafal dengan berbagai kebijakan kenaikan harga rokok, dan para perokok selalu punya cara untuk menyiasatinya.

BACA JUGA  NPD Sulit Akui Kesalahan

Salah satu bentuk perlawanan yang muncul sekarang adalah lewat gerakan tingwe yang mulai gencar dilakukan. Gerakan ini merupakan gerakan perlawanan ekonomi melalui perlawanan budaya. Gerakan tingwe menjadi wujud perlawanan budaya lokal menghadapi budaya global.

Gerakan kembali ke rokok tingwe juga menjadi sebentuk gerakan politik pasif yang dilakukan oleh para perokok. Mereka melakukan perlawanan ‘’passive resistance’’ karena tidak mampu menghadapi kekuatan negara yang masif. Dengan perlawanan pasif ini para perokok akan mempunyai posisi tawar yang tinggi, karena gerakan ini pasti akan mengurangi pendapatan negara dari pajak rokok.

Posisi tawar para perokok, yang selama ini lemah karena digencet oleh berbagai kebijakan kenaikan cukai, akan kembali menguat ketika gerakan tingwe sudah menjadi gerakan nasional yang meluas. Dengan perlawanan pasif ini para perokok akan menjadi kekuatan penekan (pressure group) yang diperhitungkan.

Pemasukan negara lewat cukai akan menurun drastis karena para perokok lebih memilih rokok tingwe yang harganya terjangkau. Bersamaan dengan itu kalangan petani tembakau juga terbantu, karena produk tembakau masih tetap terserap ke pasar melalui  aktivitas tingwe.

Hidup, Tingwe!

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.